Langsung ke konten utama

Postingan

Love Moves in Mysterious Ways

Who'd have thought this is how the pieces fit You and I shouldn't even try making sense of it I forgot how we ever came this far I believe we had reasons but I don't know what they are Don't blame it on my heart, oh Love moves in mysterious ways It's always so surprising When love appears over the horizon I'll love you for the rest of my days But still it's a mystery How you ever came to me Which only proves Love moves in mysterious ways Itu merupakan sebuah lagu yang sebenarnya liriknya agak-agak gimana, tapi ada benarnya juga. Oh iya sebelum saya menyelesaikan cerita warung kopi itu, saya ingin kita pause sejenak dari cerita fiktif itu dan sedikit beralih ke realita. Akhir-akhir ini saya banyak mendapatkan undangan pernikahan. Di bulan-bulan berakhiran "-er" ini sering disebut sebagai bulan yang bagus untuk menikah. Entah mungkin karena musim hujan sehingga suasananya jadi lebih romantis. Tapi yang jelas tahun ini undangan ...

Warung Kopi Makmur: Awal

Hari ini Bira memutuskan untuk berkunjung lagi ke warung kopi Ranti. Kali ini tujuannya bukan untuk memohon apalagi meminta, Bira hanya ingin berpamitan. Sedikit banyak Bira mulai mencoba untuk memahami kondisi saat ini, Ranti sudah jadi istri orang. Merelakan kadang menjadi bagian tersulit dalam suatu siklus percintaan. Kali ini Bira mau tidak mau harus bersedia merelakan semuanya, membuang jauh-jauh perasaannya, dan menenggelamkan harapannya pada Ranti. Pagi ini Bira memberanikan diri untuk sekedar berpamitan tanpa menaruh sedikit pun harapan lebih. Pikirannya melayang jauh ke waktu itu. Bira masih ingat betul awal mulanya. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Ranti saat ospek kampus. Ketika itu Bira satu kelompok dengan Ranti. Saat itu tidak ada hal dari Ranti yang menarik perhatian Bira. Bukan karena Ranti tidak memiliki fisik yang enak dipandang, melainkan Bira sudah terbisaa melihat perempuan-perempuan seperti Ranti di SMA-nya dulu. Perempuan cantik dengan rambut lurus sebah...

Warung Kopi Makmur : Berita

“Masih buka mbak?” tiba-tiba ada seorang perempuan bertanya ketika Ranti sedang sibuk menghitung omzet harian dari warung kopi milik mertuanya itu. Pandangannya teralih dari bon-bon yang menumpuk ke sosok seorang perempuan yang bertanya itu. “Sudah tutup mbak, warung ini buka sampai jam 4 sore saja” jawab Ranti dengan sopan. Perempuan itu terlihat kecewa dengan jawabannya. Ranti mengamati perempuan itu dengan seksama. Wajah perempuan itu berkeringat dan rambutnya acak-acakan, sepertinya ia baru saja berjalan jauh dari suatu tempat.”Kalau gitu boleh mbak saya duduk disini bentar? 15 menit sambil mbak ngitung-ngitung” perempuan itu kembali berusaha. Ranti merasa tidak tega, apalagi ia sama-sama wanita. Perempuan itu memang terlihat sangat kelelahan. “Kalau gitu silahkan mbak, kayaknya mbak kecapekan, abis jalan jauh ya?” ucap Ranti sambil mempersilahkan perempuan itu masuk.  Perempuan itu langsung menyambut ajakan Ranti untuk masuk, tanpa berpikir panjang ia langsung duduk sambil...

Warung Kopi Makmur

Pagi itu suasana kota Muara Bungo terlihat lebih lengang dari biasanya. Sudah 2 jam kota ini diguyur oleh hujan yang tidak terlalu besar namun tidak cocok juga disebut gerimis. Efek ini pun terasa sekali oleh para pedagang-pedagang yang menjual sarapan, kebanyakan memilih tidak sarapan atau mungkin sarapan seadanya saja. Begitupun dengan salah satu warung kopi yang terletak di sebuah jalan kecil di Bungo yang biasanya cukup ramai dikunjungi. Pagi ini hanya diisi oleh 3 orang pengunjung saja. Dua diantaranya bapak-bapak berumur sekitar 40 tahunan yang sedang asik membahas isu politik Indonesia yang memanas belakangan ini. Mereka berbicara dengan volume yang cukup keras bahkan kita bisa mendengarnya walaupun tidak ingin tau apa yang mereka bicarakan. Selain dua bapak-bapak tadi ada seorang lagi pengunjung warung kopi itu, ia laki-laki yang berumur sekitar 25 tahun menggunakan pakaian rapih. Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna coklat tua tanpa motif dengan celana berwarna hitam ...

Suatu Tempat

Aku mengenal seseorang bernama Ana. Ketika itu kami sedang  berada di suatu perjalanan dengan tujuan yang berbeda. Dalam perjalanan yang cukup lama itu aku sedikit demi sedikit mulai memahami  sosok seorang Ana. Selama perjalanan tak sedikit pun aku menaruh harapan padanya, begitu juga Ana. Kami beriringan tanpa ekspektasi, karena kami pernah dibuat kecewa olehnya.  Tempat tujuan kami belum juga terlihat, rasanya masih jauh. Aku bahkan tidak menanyakan dimana Ana akan turun, kemana dia akan pergi, apa yang akan dia lakukan berikutnya, tak satupun aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun aku meyakini bahwa kami tidak menuju tempat yang sama. Sampai akhirnya aku merasa bahwa sepertinya sebentar lagi aku akan sampai. Sampai, berat rasanya untuk menyebut kata tersebut. Tanpa aku sadari bahwa mungkin aku sedikit berharap padanya, pada Ana. Bukan logikaku yang membuatnya ada, ah rasanya itu tiba-tiba muncul. Aku mencoba keluar dari topik tentang politik dan duni...

Fool

Cinta, salah satu topik paling menarik dalam hidup manusia. Topik ini menjadi kian menarik ketika kita sendiri yang mengalaminya. Cinta memang tidak melulu hanya kepada seseorang yang sedang-akan-ingin kita jadikan pasangan, cinta secara umum bisa dirasakan kepada keluarga, pekerjaan, hewan peliharaan, sahabat, dan apapun yang bisa dicintai. Tapi saya rasa percintaan yang paling sukses membuat seseorang jadi mendayu-dayu adalah cinta terhadap seseorang yang bukan kelurga, bukan hewan atau pekerjaan, bisa jadi mulanya teman, dan rasanya ingin kita miliki sebagai pasangan. Begitu banyak lirik lagu ataupun puisi yang mengatakan bahwa cinta tak harus memiliki. Menurut saya itu hanya kalimat omong kosong yang digunakan untuk menguatkan diri ketika mengetahui kenyataan bahwa memang tidak semua cinta bisa kita miliki. Lalu kenapa segitu ngototnya ketika kita merasakan jatuh cinta dan ingin rasanya cepat mengikat cinta tersebut dal satu hubungan. Bagi saya menyukai seseorang dengan begitu ku...

Awal Baru di Penghujung Tahun

Di penghujung tahun 2013 ini tiba-tiba saya mendapatkan kabar yang cukup mengejutkan dari kantor dimana saya bekerja saat ini. Bahwa saya ditugaskan ke sebuah daerah yang namanya saja baru saya dengar dan terletak di Sumatra sana yaitu Kota Duri, Riau. Konon di sana akan dibuka sebuah cabang baru yang entah bagaimana ceritanya saya dipercaya untuk bertugas di sana. Setahun ini belakangan ini sudah cukup banyak hal tak terduga yang datang kepada saya mulai dari keluarga, karir, hingga asmara. Sepanjang tahun ini rasanya jantung saya berdebar-debar lebih kencang dari biasanya. Begitu banyak kejadian yang "mengejutkan". Sepertinya akhir tahun ini akan ditutup oleh kepindahan saya ke Duri. Sungguh mengejutkan bagi saya pribadi.  Saya mengikuti sebuah program pendidikan di kantor saya dimana program tersebut dirancang untuk melahirkan para pemimpin masa depan. Selama setahun saya diberikan berbagai training in class hingga on the job training . Secara keseluruhan saya ...