Langsung ke konten utama

Postingan

dari 6:30

6:30. Menyesal saya baru tertarik menonton film ini. Padahal ini bukanlah sebuah film yang bisa dikatakan jelek. Dan film-film jenis ini mungkin sudah tidak diproduksi lagi oleh para sineas Indonesia. Film drama yang dikemas secara natural dengan konflik yang bisa dialami oleh semua orang. Dan yang pasti film ini terasa indie sekali. Meskipun banyak hal-hal yang mengganggu sepanjang film yaitu: suara. Salah satu pesan dari film ini akan saya ilustrasikan sedikit. Misalnya begini, kamu punya sahabat atau teman dekat, ternyata kamu suka mantan sahabat kamu. Situasi yang tidak menyenangkan sebenarnya. Mungkin sampai saat ini hal sebisa mungkin kita cegah adalah jatuh cinta pada mantan sahabat sendiri. Judul kasusnya adalah: Tertarik sampai Jatuh Cinta pada orang yang salah. Tapi siapa yang bisa memprediksi (kecuali peramal, atau yang lainnya) kepada siapa kita akan tertarik bahkan sampai tergila-gila pada seseorang. Padahal kita tau, when you falling in love with her/him, you’ll get probl...

di salah satu tempat di KOPO

Sedikit cerita ringan saja. Di daerah tempat saya tinggal ada sebuah swalayan yang cukup legendaries di KOPO. Kalau diingat-ingat sih swalayan itu adalah pasar modern pertama di KOPO. Sesekali saya kesana untuk membeli barang-barang yang kadang tidak ada di tempat lainnya. Salah satunya alat-alat elektronik ringan, seperti CD, headset, dan-lain-lain. Alat-alat tulis dan barang elektronik berada di satu lantai yaitu lantai 3. Yang akan dibahas bukanlah keunggulan dari swalayan atau promosi. Melainkan ada hal yang menggelitik saya ketika saya baru-baru ini ke sana untuk membeli DVD. Ada seorang karyawan swalayan itu yang dari dulu hingga sekarang masih saja ada dan selalu bertugas di lantai 3. Yang jadi persoalan adalah karyawan (laki-laki) itu mempunyai prilaku yang tidak biasa. Masih diagnosis semata, saya mendiagnosis dia gay. Sewaktu saya SMP saya sering membeli alat-alat tulis disana. Dan karyawan itu bertanya-tanya dan terus-terusan mengajak saya ngobrol. Saya dulu berp...

Orang yang Gila Hormat

Bagaimana rasanya jika bertemu orang yang gila hormat tetapi sama sekali tidak menghormati orang lain? Tentu kepala akan terasa panas. Dan bagaimana jika kita bertemu dengan orang macam itu setiap hari di rumah. Jawaban yang jelas adalah tidak betah di rumah. Karena satu orang yang super bedebah itu kenyamanan saya di rumah semakin berkurang. Rasanya ingin menendang pantatnya keluar dari rumah. Namun sayang berbagai macam norma menghalangi saya untuk melakukan hal itu. Sehingga yang bisa dilakukan adalah menahan diri. Menekan amarah sedalam-dalamnya. Setiap harinya memang ada saja yang bisa dijadikan masalah besar olehnya. Entah apa yang ia inginkan. Entah setan darimana yang selalu mendampinginya, yang jelas setan itu semakin sukses membuat saya gerah setengah mati. Mungkin manusia macam itu diciptakan untuk menguji kesabaran saya. Mau tidak mau saya harus sabar menghadapi orang macam ini. Damn.

Salah Satu Malam Minggu

Malam Minggu selalu identik dengan waktunya senang-senang. Mulai dari senang-senang dengan keluarga sampai pacar. Meskipun kegiatan itu bukanlah hal yang menjadi kewajiban. Tetapi banyak orang yang melakukan berbagai kegiatan yang sifatnya senang-senang ketika malam Minggu tiba Tidak begitu dengan saya. Mungkin saya adalah satu dari sebagian kecl orang yang tidak banyak melakukan aktivitas pada hari Sabtu malam. Di umur saya yang 20 sekian ini saya tinggal jauh dari keluarga. Teman-teman saya biasanya punya kesibukan tersendiri setiap Minggunya. Sehingga jarang-jarang saya bisa bersama mereka di malam Minggu. Dan tak lupa saya tidak punya pacar atau seseorang yang akan dengan sudi meluangkan waktunya bersama saya di Sabtu malam. Begitupun Mala mini, jalanan dipenuhi oleh berbagai kendaraan bermotor. Seperti malam Minggu yang lalu-lalu, jalanan selalu ramai oleh orang-orang yang sedang kasmaran. Saya pun ingin membuat malam Minggu ini lebih special di banding dengan Minggu-Minggu se...

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...

blog kedua

Punya blog satu saja sebenarnya sudah cukup repot, maksudnya belum tentu kita punya tulisan-tulisan yang layak publish (menurut standar masing-masing) setiap bulannya. Bulan ini saja, saya baru menelurkan dua entry. Produktivitas saya dalam menulis hal-hal yang tidak jelas bukannya menurun, tapi banyak tulisan-tulisan yang tidak jadi dipublish karena beberapa alasan. Mulai dari alasan, tidak PD dengan salah satu entry. Hal itu kerap terjadi ketika saya membaca ulang tulisan yang saya buat, kadar ketidakjelasannya sangat tinggi sehingga saya memutuskan untuk menyimpannya baik-baik di folder-folder komputer saya. Alasan lainnya ketika, ada sebuah kejadian yang ingin saya komentari. Dan ternyata belum sempat terpublish, ketika diniatkan untuk diedarkan, kejadian itu sudah terlampau basi. Dan alasan yang paling banyak membuat saya urung me-publish tulisan adalah masalah privacy. Ouu, mungkin agak sedikit berlebihan. Tapi mungkin ini dialami oleh beberapa orang yang saat berada di kondisi y...

Dari Sisca sampai Fara

Saya suka sekali menonton acara masak memasak. Entah karena saya suka makan atau sebenarnya saya punya bakat memasak? Saya memang suka sekali makan, apapun yang enak wah saya berusaha keras akan menghabiskannya. Namun kalau saya masak? Ya memang saya tidak jago masak seperti chef-chef handal ataupun sehandal chef rumahan seperti ibu saya. Tapi terkadang saya senang mencoba-coba memasak. Mulai dari hal yang paling sederhana yaitu telor ceplok, mie goreng (yang bukan hanya bumbu bawaaan), omelet, nasi goreng, dan yang terakhir saya membuat pancake, walaupun tidak berhasil. Tapi saya ingin membuat sesuatu yang enak dan baru, dan ujungnya adalah untuk saya makan sendiri. Tapi hal selanjutnya yang saya bahas bukanlah tentang kesenangan saya akan masakan. Tetapi acara masak memasak di TV yang kemasannya terus berubah. Dulu waktu SD saya ingat sekali, hampir setiap hari saya menonton acara “Aroma” yang dipandu oleh Sisca Soewitomo. Ibu-ibu berbadan mungil tapi lebar ini memiliki tangan-tangan...