Langsung ke konten utama

Orang yang Gila Hormat

Bagaimana rasanya jika bertemu orang yang gila hormat tetapi sama sekali tidak menghormati orang lain? Tentu kepala akan terasa panas. Dan bagaimana jika kita bertemu dengan orang macam itu setiap hari di rumah. Jawaban yang jelas adalah tidak betah di rumah. Karena satu orang yang super bedebah itu kenyamanan saya di rumah semakin berkurang. Rasanya ingin menendang pantatnya keluar dari rumah. Namun sayang berbagai macam norma menghalangi saya untuk melakukan hal itu. Sehingga yang bisa dilakukan adalah menahan diri. Menekan amarah sedalam-dalamnya.

Setiap harinya memang ada saja yang bisa dijadikan masalah besar olehnya. Entah apa yang ia inginkan. Entah setan darimana yang selalu mendampinginya, yang jelas setan itu semakin sukses membuat saya gerah setengah mati. Mungkin manusia macam itu diciptakan untuk menguji kesabaran saya. Mau tidak mau saya harus sabar menghadapi orang macam ini. Damn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Psikolog Tidak Semudah yang Anda Kira.

Mungkin masih banyak yang menganggap remeh profesi psikolog. Atau juga masih banyak yang menganggap psikolog itu hanya sebatas pembaca kepribadian manusia. Seseorang yang kuliah di bidang Psikologi relative banyak menerima pernyataan dan permintaan “Baca Aku dong?” atau “Tebak aku kayak gimana?”, lagi-lagi kalau dapat respon seperti saya Cuma nyengir. Semester-semester sebelumnya saya masih menganggap bahwa buat belajar psikologi ya tinggal baca buku, karena pengaruh dosen tidak terlalu signifikan. Saya ingat seorang teman SMA saya yang sempat berapi-api ingin masuk Psikologi tiba-tiba berubah pikiran dengan alas an “ Ah belajar psikologi mah bias otodidak, tinggal baca”. Kali ini saya sangat tidak setuju dengan pernyataan sang teman SMA. Belajar Psikologi bukan hanya mengetahui seseorang ekstrovert atau introvert. Atau sekedar main-mainan tebak kepribadian. Menjadi Psikolog atau setidaknya sarjana Psikologi tidak sesederhana itu. Setelah 4 semester terlewat saya pun baru tersadar...

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...