Langsung ke konten utama

Postingan

Solo Traveling (part 2)

Nah di tulisan sebelumnya saya sudah menyerukan untuk coba yang namanya solo traveling. Tapi kan tapi kan, ga usah banyak tapi. Saya bisa jamin solo traveling itu menyenangkan dan ga bikin kalian dipandang sebelah mata karena kemana-mana sendirian. Saya coba berbagi beberapa tips untuk kalian yang sudah ada niatan kecil yang muncul di hati sanubari untuk solo traveling. 1. Tentukan destinasi Coba cari kota yang sesuai dengan minat kalian, karena minat wisata tiap orang bisa beda-beda.  Pasti dong, memang sih ada embel-embel get lost. Get lost bukan berarti kalian random aja naik rute pesawat mana aja atau naik kereta kemana aja dengan asal. Galau ga harus segitunya kan? Sebelum menentukan kapan mau solo traveling kalian harus mencoba untuk menentukan kota mana yang akan dituju. Coba cari kota yang sesuai dengan minat kalian, karena minat wisata tiap orang bisa beda-beda. Pernah ditanya sama calon gebetan “Kamu suka pantai atau gunung?” nah itu menunjukan k...

Solo Traveling (part 1)

Hei apa kabar my dearest blog? Wah sudah dua tahun ya tidak ada posting sama sekali di blog ini. Bukan tidak ingin untuk menulisa lagi, hanya saja hmmmmm. Okey mari kita lewati memberikan berbagai macam alasan untuk tidak menulis, sekarang saya akan sedikit memberikan pengalaman saya seputar jalan-jalan. Rasanya sudah cukup lama sih tidak menulis sesuatu yang bersifat informatif di blog ini. Tulisan-tulisan terakhir saya berisi cerita-cerita fiksi, keluh kesah, puisi, dan hal-hal yang mungkin kurang informatif dan bermanfaat (tapi cukup menghibur kan?). Bukan sok nasionalis sih, tapi emang Indonesia itu negara yang luas dan punya banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi.   Saya tiba-tiba baru sadar bahwa saya sudah terlalu sering jalan-jalan. Memang sih saya belum bisa dikategorikan sebagai backpacker sejati atau traveler akut. Apalagi kalau mau adu jumlah negara yang dikunjungi, duh saya masih cupu sekali. Selain karena waktu dan ehem budget, saya lebih fok...

Akhir 2014

2014 Desember. Bulan paling akhir di setiap tahun. Bulan dimana kita sering merenung tentang apa yang telah terjadi setahun ini kemudian membuat harapan baru untuk tahun berikutnya. Terkadang kita memang membutuhkan sebuah akhir untuk memulai sesuatu yang baru, yang lebih besar, yang lebih baik lagi. Pergantian tahun jadi momentum yang dirasa tepat untuk memulainya. Diawali dengan cara mengingat kembali apa-apa saja yang telah terjadi setahun ini. Saya terlahir di tahun 90. Sehingga akan sangat terasa perubahan umur setiap pergantian tahun karena belakangnya akan selalu sama. Meskipun saya berulang-tahun di bulan September, setiap pergantian tahun saya sudah merasa menyandang angka baru. 2015 ini, saya merasa bahwa umur saya sebentar lagi menginjak ¼ abad. Beban akan semakin berat ditambah ekspektasi orang-orang semakin tinggi. Sementara selama 1 tahun ini, belum banyak juga yang telah saya lakukan. 2014 ini rasanya berjalan datar. Tidak ada sesuatu hal yang baru-baru amat. Saya masih...

Babak 1

Entah siapa yang datang entah siapa yang dikunjungi Tapi kita terlanjur larut dalam ruangan ini Kita lemah dan tak mampu kendalikan waktu Padahal kita tau ini hanya berujung di jalan buntu Aku ingin melebur bersamamu lalu tenggelam meninggalkan realita Menyusun rencana dan membuatnya ada Kuatkan genggamanmu di antara ragu yang sering mengacam Buatlah aku bertumpu dan hanyut menjadi kisahmu Aku nyaris sampai menuju landasanmu Berpacu waktu melawan jarak Sentuh aku dan jawab pertanyaanku Sebentarkah kita?

Love Moves in Mysterious Ways

Who'd have thought this is how the pieces fit You and I shouldn't even try making sense of it I forgot how we ever came this far I believe we had reasons but I don't know what they are Don't blame it on my heart, oh Love moves in mysterious ways It's always so surprising When love appears over the horizon I'll love you for the rest of my days But still it's a mystery How you ever came to me Which only proves Love moves in mysterious ways Itu merupakan sebuah lagu yang sebenarnya liriknya agak-agak gimana, tapi ada benarnya juga. Oh iya sebelum saya menyelesaikan cerita warung kopi itu, saya ingin kita pause sejenak dari cerita fiktif itu dan sedikit beralih ke realita. Akhir-akhir ini saya banyak mendapatkan undangan pernikahan. Di bulan-bulan berakhiran "-er" ini sering disebut sebagai bulan yang bagus untuk menikah. Entah mungkin karena musim hujan sehingga suasananya jadi lebih romantis. Tapi yang jelas tahun ini undangan ...

Warung Kopi Makmur: Awal

Hari ini Bira memutuskan untuk berkunjung lagi ke warung kopi Ranti. Kali ini tujuannya bukan untuk memohon apalagi meminta, Bira hanya ingin berpamitan. Sedikit banyak Bira mulai mencoba untuk memahami kondisi saat ini, Ranti sudah jadi istri orang. Merelakan kadang menjadi bagian tersulit dalam suatu siklus percintaan. Kali ini Bira mau tidak mau harus bersedia merelakan semuanya, membuang jauh-jauh perasaannya, dan menenggelamkan harapannya pada Ranti. Pagi ini Bira memberanikan diri untuk sekedar berpamitan tanpa menaruh sedikit pun harapan lebih. Pikirannya melayang jauh ke waktu itu. Bira masih ingat betul awal mulanya. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Ranti saat ospek kampus. Ketika itu Bira satu kelompok dengan Ranti. Saat itu tidak ada hal dari Ranti yang menarik perhatian Bira. Bukan karena Ranti tidak memiliki fisik yang enak dipandang, melainkan Bira sudah terbisaa melihat perempuan-perempuan seperti Ranti di SMA-nya dulu. Perempuan cantik dengan rambut lurus sebah...

Warung Kopi Makmur : Berita

“Masih buka mbak?” tiba-tiba ada seorang perempuan bertanya ketika Ranti sedang sibuk menghitung omzet harian dari warung kopi milik mertuanya itu. Pandangannya teralih dari bon-bon yang menumpuk ke sosok seorang perempuan yang bertanya itu. “Sudah tutup mbak, warung ini buka sampai jam 4 sore saja” jawab Ranti dengan sopan. Perempuan itu terlihat kecewa dengan jawabannya. Ranti mengamati perempuan itu dengan seksama. Wajah perempuan itu berkeringat dan rambutnya acak-acakan, sepertinya ia baru saja berjalan jauh dari suatu tempat.”Kalau gitu boleh mbak saya duduk disini bentar? 15 menit sambil mbak ngitung-ngitung” perempuan itu kembali berusaha. Ranti merasa tidak tega, apalagi ia sama-sama wanita. Perempuan itu memang terlihat sangat kelelahan. “Kalau gitu silahkan mbak, kayaknya mbak kecapekan, abis jalan jauh ya?” ucap Ranti sambil mempersilahkan perempuan itu masuk.  Perempuan itu langsung menyambut ajakan Ranti untuk masuk, tanpa berpikir panjang ia langsung duduk sambil...