Langsung ke konten utama

pacaran, pacaran, trus?

posting lagi? begitu produktif gue bulan ini, biarin, mumpung lagi ada semangat nulis, sebelum mood berubah.

Relationship, topik ini begitu sering memenuhi otak gue beberapa hari ini. Akhirnya membludak juga, setelah, baca sms yang dikirim adek gue ke pacar/hts-an/ngaku pacar/ atau status laiinnya, yang bikin gue heran sekaligus pengen ketawa parah, bukn rese ngeliatin inbox HP nya, tapi disaat layar HP nya masih nyala, bekas sent item nya masih muncul, gue yang lagi nyisir, secara ga sengaja ngebaca. "Aku tau isi hati kamu".

Kalimat pamungkas yang sering banget dipake buat orang yang sedang dipenuhi cinta [huekkss]. Yang mau gue bahas bukan tentang kata-kata romantis yang keluar dari otak anak SD, tapi tentang pacaran itu sendiri.

Gue nyari-nyari di internet, tentang sejarah pacaran, dan gak ketemu [kalo ada yang tau, kasi tau gue], kapankah yang namanya pacaran itu ada, siapa pencetus hubungan antar gender, yang diikat, tapi bukan menikah ini diciptakan, yang pasti gue ga tau. Yang gue tau efek dari budaya pacaran.

Sumpah deh, ga maksud jadi orang yang sok kolot, atau gimana, ini cuma sebatas pemikiran gue tentang pacaran. Well, gue sendiri bukan tipe orang yang dengan mudah jadian ama siapa gitu, terus pacaran, putus aja. Komitmen, adalah hal yang paling sulit gue patuhi, ga mau terikat, dan traumatik, menjadi faktor yang bikin gue males buat pacaran. Se-suka apapun gue sama orang, pasti gue takut buat membangun komitmen, walaupun suatu hari gue pengen nikah. Apalagi setelah beberapa kali gue liat tentang yang namanya pacaran malah bikin masalah baru.
Banyak yang mengartikan pacaran itu, ya buat mesra-mesraan, malu-malu tapi mau, nyudut di suatu tempat, dan dengan itu maka hubungan itu semakin bertabur cinta. Tanpa peduli orang lain, atau kata orang lain, yang pasti dunia cuma milik berdua. Seakan-akan, pacaran tuh cuma buat gitu, yang namanya cinta tuh gitu, yang namanya harmonis tuh gitu, yang namanya perhatian tuh gitu. Entah ya, mungkin gue orang yang kaku, dan males berkomitmen jangka panjang [untuk sementara, mudah-mudahan bisa berubah], yang bikin gue mikir kayak gitu, atau emang pacaran itu musti gitu. Dipantau 24 jam sehari, sekalinya ga direspon, beh pertanyaan datang bertubi-tubi, kesannya jadi ga punya ruang buat diri sendiri, temen gue sih bilang, "Mungkin dia menikmati situasi kayak gini", tapi siapa sih sebenernya manusia yang pengen diatur 100%?, semua manusia pasti pengen punya ruang buat dia sendiri, dengan teman-temannya, buat keluarga. Apalagi kalo udah sampe tahap penekanan, pasangannya ditekan biar harus nurut ama dia, kalo ga nurut ngambek, apa pacaran juga harus ngasih setengah atau sepenuhnya hak buat pasangannya?
Ya yang jelas mungkin masih ada pasangan-pasangan yang "sehat" di luar sana, yang jelas keadaan-keadaan di sekitar gue makin bikin males buat nyari/usaha. Meskipun ada yang bilang gue flirting sama siapa gitu, yah namanya juga manusia, punya nafsu untuk memiliki, tapi belum tentu bisa memiliki, atau kalau udah memiliki, ga puas ama yang udah ada.

Tampak rumit gue kali ini, ya udah lah, pesen gue buat pasangan-pasangan yang sedang menjalin apa yang dibilang "cinta", mudah-mudahan ga terlena dan lupa diri, ga usah terlalu maksain, jangan nyiksa diri sendiri dengan tetep kekeuh mempertahankan hubungan yang seharusnya udah ga bisa, dengan alih-alih "Kan udah lama, masa gara-gara hal kayak gitu putus?", ya asal nantinya kalo udah naik ke jenjang yang lebih tinggi, jangan nangis tersedu-sedu ngadu ke KOMNAS HAM,

"Saya disiksa pasangan saya.."

*sebatas, pemikiran orang awam, kalo ga sesuai, ya jangan dibuat serrius lagh*

Komentar

  1. mmm...
    mupeng pacaran ya masss...
    hehehheee

    liat geura di youtube tentang couple..
    liat ajaaa...
    pasti ngirii...

    BalasHapus
  2. pacaran ABG emang gitu gung....
    coba kalo liat pacaran kakak- kakak yg udah dewasa. Pasti BEDA !

    yah, namanya juga anak muda, jadi pacarannya juga masih yg seneng- seneng doang....hehe

    BalasHapus
  3. woy jek,,lo hampir mirip kaya gw,,gak suka terlalu terikat,,gimana klo kita buat gaya hubungan baru,,mesra,,tapi gak perlu terikat,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...