Langsung ke konten utama

Trip To Thailand 2018: Hua Hin Part 1


Hari kedua di Thailand, rencananya berangkat pagi-pagi biar cepet sampe Hua Hin. Sayangnya ke-mager-an ini menguasai sekali, bangun tidur sarapan sambil leyeh-leyeh di cafe-nya MovyLodge fotoin interiornya trus bengong-bengong. Bengong di hari cuti itu enak banget! Ga kerasa ternyata udah jam 11, wah udah siang! Buru-burulah ya check out. Semalem browsing katanya sih ke Hua Hin bisa naik sejenis van gitu (orang Bandung nyebutnya travel) ke sana dari Victory Monument. Tapi si temen orang Thai, Num,  pagi-pagi kasih informasi katanya ke Hua Hin pake kereta aja soalnya bisa dapet pemandangan yang oke sepanjang jalan. Setelah menimbang ini itu, diputuskanlah naik kereta. Kereta ke Hua Hin diberangkatkan dari Stasiun Hua Lamphong Railway Station. 
10 menit setelah kereta dari Hua Lamphong berangkat


Untuk menuju ke Hua Lamphong ini dari Ratchatewi saya naik BTS dari Ratchatewi ke Asok. Nah sampe Asok perut laper kan melipirlah ke Terminal 21. Terminal 21 ini sebenernya sebuah mall yang gede banget dan terhubung dengan stasiun BTS juga MRT. Di sini konon kata si Num murah-murah. Denger murah penasaran kan (anaknya murahan), akhirnya dengan nenteng koper naik lah ke lantai 5 area makanan. Pas dicek eh iya murah-murah hati udah bahagia tapi ternyata kebahagiaan itu sirna karena antriannya cukup panjang untuk top up berupa saldo di kartu gitu. Perut udah keroncongan dan kaki udah bergetar, akhirnya saya mengurungkan niat untuk makan di sana dan memilih sebuah resto ayam hainan seharga 99 baht lengkap sama teh manis yang rasanya ga karuan. 

Hua Lamphong Railway Station
Setelah perut kenyang, saya turun untuk cari MRT. Bermodalkan sok tau, saya balik ke stasiun BTS Asok mencari lift untuk ke MRT, trus pas sampe kok ga ada tanda-tanda MRT ya, apa MRT nya di atas ya ga di bawah tanah apa harus naik, apa tiketnya sama, dengan segala kebingungan saya telpon si Num. Ternyata turun eskalator di sebelah kanan dari pintu keluar Terminal 21! Dari situ sudah banyak tanda yang mengarahkan untuk masuk ke MRT Pertchaburi. Ada perbedaan bentuk tiket antara BTS dan MRT, kalau BTS berbentuk kartu ATM sementara MRT berbentuk koin tapi cara penggunaannya sama. 

Mahal kan?
Sampailah saya di stasiun Hua Lamphong dari MRT ke Railway Station-nya tidak terlalu jauh cukup ikutin tanda demi tanda sampe ketemulah loketnya. Oke siap-siap setelah ini saya akan kehilangan uang senilai 500 Baht. Jadi begini, saya mulai mengantri di loket tiket dan ketika giliran tiba saya menyebut Hua Hin ke petugas tiket. Si petugas tiket pun mengangguk dan bertanya pada saya dalam bahasa Thai saya sambil menggeleng-geleng bilang "I can not speak Thai" si petugas nunjuk layar monitor ke arah jam yaitu 14.45. Saya pun menangguk-angguk, trus dia nunjukin harga 702 Baht, saya pun terkejut, perasaan ga semahal itu kata si Num tadi. Antrian sudah panjang di belakang dan saya nanya pun si petugas ga ngerti bahasa Inggris akhirnya dengan berat hati saya bayar 702 Baht. Dengan langkah lunglai saya berjalan ke mini market beli perbekalan di jalan sambil nanya si Num. Setelah saya cerita ternyata si Num pun kaget karena harusnya tidak semahal itu, dia minta foto tiket yang saya beli dan akhirnya terungkap kenapa harga tiket saya semahal itu. Jadi kereta ke Hua Hin merupakan sebuah rangkaian perjalanan yang panjang dan Hua Hin bukan stasiun terakhir, Sebagai kereta malam, kereta ini menyediakan kelas yang kursinya bisa diubah jadi kasur ketika malam hari. 


Dalam Kereta
Ketika diubah dari kursi ke kasur bertingkat
Sebenarnya jika beli kursi saja hanya 220 Baht untuk ke Hua Hin. Si petugasnya juga aneh, udah tau sampe Hua Hin jam setengah 7 kenapa diset buat beli ke kelas sleeper. Si kursi ini bisa diubah hanya setelah jam 6 sore. Makin menyesakan dada kan? Rasanya uang melayang. Tapi saya tentu ga mau rugi dong, pas di dalam kereta saya request ke petugas kereta untuk kursi saya dibentangkan jadi kasur karena saya udah bayar, si petugas mungkin kasian waktu liat tiket saya yang kejebak beli sleepers class. Alhasil saya bisa nikmatin kasur di kereta rasanya enak juga lho, coba kalau kereta di Indonesia dibuat kayak gitu perjalanan panjang kayak Lampung-Palembang pasti nyaman banget. Sepanjang perjalanan emang pemandangannya keren sih, di dalem keretanya juga nyaman.

Jam 18.45 saya akhirnya sampai ke Hua Hin, hampir kelewat lho. Tips kalau kesana harus udh bisa ngira-ngira kalau di tiket jam 18.45 sampai Hua Hin langsung tanyain ke petugas apa stasiun berikutnya Hua Hin apa bukan. Si petugas ga ngingetin soalnya, kalau bengong-bengong nunggu dipanggil kelewat pasti. 

Jalan-jalan Kecil di Hua Hin
Sampailah di Hua Hin, yang kata temen di kantor kayak Karawang. Hari udah gelap juga sih, saya coba tanya ke yang punya hostel katanya deket banget dari stasiun ke hostel, cuma 15 menit. Pas dicek, iya 15 menit, tapi 1,5 Km. Sebagai orang Indonesia yang males banget jalan, jarak segitu rasanya jauh bukan main. Masih menenteng koper, saya coba berjalan kaki sampai ke hostel. Sepanjang jalan kaki kebanyakan bule-bule yang sudah lanjut usia, semakin deket ke hostel saya mulai masuk jalan-jalan kecil dan rasanya kayak di Bali ga kayak Karawang kok. Mungkin karena hostel saya ini di pusat kegiatan Hua Hin konon kata si pemilik hostel "You're in the heart of Hua Hin" 

Rooftop Jetty Hostel
Saya memilih Jetty Hostel karena hasil googling dari blog orang Indonesia juga. Saya kontak langsung ga via aplikasi hotel, soalnya aneh di aplikasi kayak Traveloka selalu sold out. Pas ditanya ke pemiliknya kamarnya masih available. Ketika saya sampai tidak ada siapa-siapa di sana, tidak seperti hostel yang selalu ada yang standby. Saya ketok-ketok kayak masuk rumah orang, spada spadaaa. Saya telpon via Line ga diangkat, dalam hati udah mulai panik kemana ku harus bermalam. Apa berguling di pinggiran pantai? Eh ternyata di pintu ada bacaan nomer telpon si pemilik. Nah benefit beli sim card lokal bisa telpon karena ada gratis telponnya. Saya telpon dan masuk, akhirnya tidak lama ada yang datang bawa kunci. Hostelnya sendiri nyaman, lebih kayak ke rumah saudara sih. Masuk ke lantai-lantai berikutnya mulai terdengar ada kehidupan, jadi di rooftop bisa nongkrong ketemu traveler dari negara lain, ada traveler dari Portugal saranin saya cobain ke Night Marketnya. 

Hua Hin Night Market
Tidak lama setelah haha hihi saya ke Hua Hin Nigt Market, kata si orang Portugal deket kok cuma 15 menit, saya teringat kata si pemilik hostel tadi. Benar saja, 15 menit = 1,2 Km. Saya kemudian mulai berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di Hua Hin. Jalannya kecil-kecil dan terlihat sepi. Saya hampir berpikir kalau saya kesasar soalnya tidak ada tanda-tanda keramaian. Setelah 15 menit saya mulai melihat ada keramaian dan semakin dekat semakin ramai. Sampailah di Hua Hin Night Market.

Orang Thailand kayaknya hobi bikin night market ya, tapi saya harus acungin jempol. Sama kayak di Talad Neon kemarin, Hua Hin Night Market ini walaupun rame banget tapi teratur dan bersih dari sampah-sampah. Coba bayangin pasar malam di Indonesia (kebanyakan) mungkin udah banyak sampah padahal di sini banyak banget yang jual makanan. Di sini kita bisa liat makanan macem-macem, berat dan ringan, murah dan mahal, halal dan haram. Selain makann tentu baju, aksesoris dan lainnya. Setelah puas mengitari dan jajan ini itu saya kembali ke hostel untuk istirahat dan harus bangun pagi, konon si pemilik hostel ngasih tips, "You can see the best sunrise from our rooftop" sambil cek HP dia bilang besok matahri terbit jam 5.45 dan katanya bangun sebelum itu. Inget hal itu saya segera pulang eh tapi baliknya nongkrong dulu di rooftop sambil minum yang hangat lho ya. 

Jam 5.35 saya bangun, sambil ngantuk-ngantuk saya ke atas rooftop. Dan saya terkesima sih, mungkin bukan sunrise terbaik atau pantai terbaik. Tapi semua terasa benar dan tepat aja. Bersyukur bisa liat dan dapat pengalaman kayak gini. Ga lama ada 2 orang lainnya yang liat sunrise juga. Setelah terang saya kembali ke kamar dan lanjut tidur sebentar.
Rooftop Jetty Hostel









Bersambung. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...