Langsung ke konten utama

Hari Ke-11. KKN.

Bagaimana KKN? Sejauh ini saya kebingungan dengn konsep KKN ini. Sepertinya itu terjadi di kelompok saya saja. Entah desa tempat saya tinggal terlalu baik tapi yang jelas kelompok saya tidak terlalu dipekerjakan. Enak sih, tapi alhasil jadi minim kegiatan. Kerjaan saya hanya tidur, makan, melamum, mengobrol sebentar, lalu melamun lagi. Percayalah, tidak melakukan apa-apa lebih rentan terkena stress dibandingkan dengan banyak kegiatan (tidak bersumber dari teori namun dari pengalaman hidup). Saat ini saya suka uring-uringan sendiri, sensitif sekali, dan emosi ini terasa fluktuatif. Disimpulkan = Moody Parah!

Kalau membaca timeline teman-teman di twitter, mereka seperti padat kegiatan. Agak sirik sih, jadinya saya malah ingin sering pulang. Aih ditambah dosen pembimbing saya agak rajin untuk mengecek anak-anaknya apakah masih bertahan di desa ini. Sebenarnya bukan tidak ada cerita menarik disini. Jujur banyak cerita cerita menarik yang saya dapatkan selama disini. Mengenal 9 orang yang baru saja saya kenal dan harus terus menerus bertatap muka tanpa mengenal pagi dan malam.

Baru 11 hari. Jika dihitung sangat terasa lama. Ingin segera menyudahi kegiatan KKN ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...

Apalah Arti Sebuah Nama?

Banyak orang-orang yang bilang begitu, karena mereka menganggap kalau nama itu ga terlalu penting. Karena belum tentu nama keren, muka keren atau nama norak orangnya juga norak. Saya pun sering dengar system generalisasi nama. Misalnya seperti yang namanya “X” biasanya cantik, yang namanya “Y” biasanya ganteng, yang namanya “Z” biasanya jahat. Well dari sana saja ketauan nama itu bukan sesuatu yang bisa ditendang sejauh 50 meter dengan tenaga minim, artinya saya sih menganggap kalau nama itu penting. Saat kita menyandang nama sesuatu, kalau kata orang tua kita membawa doa dan tanggung jawab. Doa yang dimaksud adalah harapan-harapan dari orang tua yang kelak diharapkan akan muncul. Misalnya saya sendiri, Agung artinya besar, Muhammad artinya diharapkan perilakunya bisa dijadikan panutan, Reza yang maksudnya diharapkan menjadi pemimpin yang bijak. Wew, kalau saya ingat-ingat arti dari nama saya sendiri rasa-rasanya bahu saya mendadak berat sekali. Begitu besarnya harapan orang tua saya...