Langsung ke konten utama

Cuman Ingin Bercermin pada Batu

Ibaratnya, kamu telah divonis sebuah penyakit yang sebentar lagi akan membuatmu hilang dari dunia ini. Ibaratnya Aku pun mendapat vonis serupa. Kamu terus menguntai senyuman, satu demi satu. Kamu tertawa dan bercanda dalam ragu yang menyiksa hatimu perlahan. Ibaratnya kini Aku telah menyandarkan separuh rangkaian kata yang Aku miliki. Mungkin hanya itu yang Aku miliki dan Aku berani mempertaruhkan setengahnya untukmu. Kamu menggapai pijakan yang Aku tinggalkan, tipis, tapi Kamu menemukannya tanpa ragu. Ibaratnya vonis tersebut semakin mendekati kita, kita tau bahwa cepat atau lambat keraguan ini akan memperdalam rasa sakitnya.

Kita sama-sama setuju, untuk tidak memikirkan akhirnya. Meskipun tetap saja terselip di tiap genggaman yang Kamu berikan. Rasanya kita telah lelah bercermin, lelah mengetahui bahwa kita tidak akan pernah berjalan terlalu jauh. Meskipun pikiran kita telah sampai disana. Ibaratnya kini kita mencari sebuah cermin yang tidak memantulkan kenyataan. Mungkin kita harus bercermin pada batu yang hitam, dimana yang terlihat hanya kedalaman mata yang telah lelah berharap. Kita bukan untuk diibaratkan. Itu semua tetap mengalir pada pada dua jalur yang berbeda. Aku tetap akan berjalan ke kanan membawa hatimu. Dan kamu tetap berdiri, atau mungkin ke kiri, tanpa Aku tau, apakah kamu membawa hatiku.

19 Maret 2011
7.11 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...