Langsung ke konten utama

Cuman Ingin Bercermin pada Batu

Ibaratnya, kamu telah divonis sebuah penyakit yang sebentar lagi akan membuatmu hilang dari dunia ini. Ibaratnya Aku pun mendapat vonis serupa. Kamu terus menguntai senyuman, satu demi satu. Kamu tertawa dan bercanda dalam ragu yang menyiksa hatimu perlahan. Ibaratnya kini Aku telah menyandarkan separuh rangkaian kata yang Aku miliki. Mungkin hanya itu yang Aku miliki dan Aku berani mempertaruhkan setengahnya untukmu. Kamu menggapai pijakan yang Aku tinggalkan, tipis, tapi Kamu menemukannya tanpa ragu. Ibaratnya vonis tersebut semakin mendekati kita, kita tau bahwa cepat atau lambat keraguan ini akan memperdalam rasa sakitnya.

Kita sama-sama setuju, untuk tidak memikirkan akhirnya. Meskipun tetap saja terselip di tiap genggaman yang Kamu berikan. Rasanya kita telah lelah bercermin, lelah mengetahui bahwa kita tidak akan pernah berjalan terlalu jauh. Meskipun pikiran kita telah sampai disana. Ibaratnya kini kita mencari sebuah cermin yang tidak memantulkan kenyataan. Mungkin kita harus bercermin pada batu yang hitam, dimana yang terlihat hanya kedalaman mata yang telah lelah berharap. Kita bukan untuk diibaratkan. Itu semua tetap mengalir pada pada dua jalur yang berbeda. Aku tetap akan berjalan ke kanan membawa hatimu. Dan kamu tetap berdiri, atau mungkin ke kiri, tanpa Aku tau, apakah kamu membawa hatiku.

19 Maret 2011
7.11 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Psikolog Tidak Semudah yang Anda Kira.

Mungkin masih banyak yang menganggap remeh profesi psikolog. Atau juga masih banyak yang menganggap psikolog itu hanya sebatas pembaca kepribadian manusia. Seseorang yang kuliah di bidang Psikologi relative banyak menerima pernyataan dan permintaan “Baca Aku dong?” atau “Tebak aku kayak gimana?”, lagi-lagi kalau dapat respon seperti saya Cuma nyengir. Semester-semester sebelumnya saya masih menganggap bahwa buat belajar psikologi ya tinggal baca buku, karena pengaruh dosen tidak terlalu signifikan. Saya ingat seorang teman SMA saya yang sempat berapi-api ingin masuk Psikologi tiba-tiba berubah pikiran dengan alas an “ Ah belajar psikologi mah bias otodidak, tinggal baca”. Kali ini saya sangat tidak setuju dengan pernyataan sang teman SMA. Belajar Psikologi bukan hanya mengetahui seseorang ekstrovert atau introvert. Atau sekedar main-mainan tebak kepribadian. Menjadi Psikolog atau setidaknya sarjana Psikologi tidak sesederhana itu. Setelah 4 semester terlewat saya pun baru tersadar...

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...