Langsung ke konten utama

Dan Begitulah Kenyataannya

Kenyataan. Itu adalah hal yang harus dihadapi setiap saat. Kenyataan tidak selalu indah dan tidak selalu menyedihkan. Kadang saya sulit menerima suatu kenyataan. Kenyataan bahwa saya tidak bisa mengubah hal itu menjadi suatu hal yang orang pikir baik. Kenyataan tersebut mungkin adalah sebuah takdir yang harus saya telan bulat-bulat. Suatu kenyataan yang saya yakin tidak ada satupun di dunia ini menginginkannya. Saya tau bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya. Itu artinya saya seharusnya bisa melewati semuanya. Tapi ada hal yang tidak bisa saya mengerti, apakah Tuhan memang menakdirkan seseorang menjadi jahat? Apakah memang begitulah aturan yang dibuat-Nya? Bahwa orang-orang yang ditakdirkan tidak baik harus berusaha 10 kali lipat daripada orang-orang yang ditakdirkan baik. Lalu kenapa harus ada hal seperti itu?

Dan begitulah kenytaanya, saya tidak bisa mengubahnya, takdir atau bukan, cobaan atau bukan, saya masih belum bisa menerima kenyataannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Psikolog Tidak Semudah yang Anda Kira.

Mungkin masih banyak yang menganggap remeh profesi psikolog. Atau juga masih banyak yang menganggap psikolog itu hanya sebatas pembaca kepribadian manusia. Seseorang yang kuliah di bidang Psikologi relative banyak menerima pernyataan dan permintaan “Baca Aku dong?” atau “Tebak aku kayak gimana?”, lagi-lagi kalau dapat respon seperti saya Cuma nyengir. Semester-semester sebelumnya saya masih menganggap bahwa buat belajar psikologi ya tinggal baca buku, karena pengaruh dosen tidak terlalu signifikan. Saya ingat seorang teman SMA saya yang sempat berapi-api ingin masuk Psikologi tiba-tiba berubah pikiran dengan alas an “ Ah belajar psikologi mah bias otodidak, tinggal baca”. Kali ini saya sangat tidak setuju dengan pernyataan sang teman SMA. Belajar Psikologi bukan hanya mengetahui seseorang ekstrovert atau introvert. Atau sekedar main-mainan tebak kepribadian. Menjadi Psikolog atau setidaknya sarjana Psikologi tidak sesederhana itu. Setelah 4 semester terlewat saya pun baru tersadar...

Apalah Arti Sebuah Nama?

Banyak orang-orang yang bilang begitu, karena mereka menganggap kalau nama itu ga terlalu penting. Karena belum tentu nama keren, muka keren atau nama norak orangnya juga norak. Saya pun sering dengar system generalisasi nama. Misalnya seperti yang namanya “X” biasanya cantik, yang namanya “Y” biasanya ganteng, yang namanya “Z” biasanya jahat. Well dari sana saja ketauan nama itu bukan sesuatu yang bisa ditendang sejauh 50 meter dengan tenaga minim, artinya saya sih menganggap kalau nama itu penting. Saat kita menyandang nama sesuatu, kalau kata orang tua kita membawa doa dan tanggung jawab. Doa yang dimaksud adalah harapan-harapan dari orang tua yang kelak diharapkan akan muncul. Misalnya saya sendiri, Agung artinya besar, Muhammad artinya diharapkan perilakunya bisa dijadikan panutan, Reza yang maksudnya diharapkan menjadi pemimpin yang bijak. Wew, kalau saya ingat-ingat arti dari nama saya sendiri rasa-rasanya bahu saya mendadak berat sekali. Begitu besarnya harapan orang tua saya...