Akhir tahun ini saya cukup terkejut dengan berita pernikahan salah satu teman SMA. Seharusnya saya tidak merasa aneh lagi karena teman sekampus pun ada yang sudah menikah. Tapi kali ini saya mendatangi pernikahan dari teman saya yang seumuran. Saya merasa lebih tua karena dengan bangganya saya berkata, “Ma, Agung mau ke nikahan temen”.
Tidak menyangka jika teman saya itu bisa menikah secepat itu. Tapi dia pasti sudah mempertimbangkan keputusannya itu. Wajahnya sangat berseri dan tampak bahagia. Saya ajdi tidak terbayang malam pertamanya. Heheh.
Dan tepat di pernikahan tema saya itu, saya bertemu (lagi) dengan seseorang yang dulu sempat menggelitik hati saya cukup dalam. Mungkin dia adalah unfinished business waktu saya SMA. Dan saat melihat wajah dia lagi, ingatan saya dibawa lagi ke jaman-jaman itu. Sesekali saya melirik kearahnya wajahnya tidak berubah sama sekali. Beberapa menit saya hanya senyum tanpa ada obrolan. Dan bukan geer dia pun sesekali saya pergoki melirik saya (geer atau ngarep?). Saat pulang, dari acara tersebut barulah kita akhirnya mengobrol, cara bicaranya masih sama. Dan entah kenapa saya malah geli sendiri. Aduh jangan sampai saya terjebak lagi. Rasanya saya tidak ingin waktu segera berakhir, berlebihan ya? Tapi itu sempat saya rasakan. Setelah dia pergi, saya ajdi berpikir sendiri, kenapa saya jadi begitu kikuk. Mungkin karena waktu itu ada kalimat-kalimat yang belum tersampaikan sepenuhnya. Itu yang mungkin membuat saya jadi berpikir bodoh.
Nomer HP-nya kini tersimpan kembali, magribnya saya SMS untuk memberitahukan nomer saya saat ini. Tapi saya tidak mau lagi dibutakan. Maka SMS pun akan seperlunya. Amien.
Tidak menyangka jika teman saya itu bisa menikah secepat itu. Tapi dia pasti sudah mempertimbangkan keputusannya itu. Wajahnya sangat berseri dan tampak bahagia. Saya ajdi tidak terbayang malam pertamanya. Heheh.
Dan tepat di pernikahan tema saya itu, saya bertemu (lagi) dengan seseorang yang dulu sempat menggelitik hati saya cukup dalam. Mungkin dia adalah unfinished business waktu saya SMA. Dan saat melihat wajah dia lagi, ingatan saya dibawa lagi ke jaman-jaman itu. Sesekali saya melirik kearahnya wajahnya tidak berubah sama sekali. Beberapa menit saya hanya senyum tanpa ada obrolan. Dan bukan geer dia pun sesekali saya pergoki melirik saya (geer atau ngarep?). Saat pulang, dari acara tersebut barulah kita akhirnya mengobrol, cara bicaranya masih sama. Dan entah kenapa saya malah geli sendiri. Aduh jangan sampai saya terjebak lagi. Rasanya saya tidak ingin waktu segera berakhir, berlebihan ya? Tapi itu sempat saya rasakan. Setelah dia pergi, saya ajdi berpikir sendiri, kenapa saya jadi begitu kikuk. Mungkin karena waktu itu ada kalimat-kalimat yang belum tersampaikan sepenuhnya. Itu yang mungkin membuat saya jadi berpikir bodoh.
Nomer HP-nya kini tersimpan kembali, magribnya saya SMS untuk memberitahukan nomer saya saat ini. Tapi saya tidak mau lagi dibutakan. Maka SMS pun akan seperlunya. Amien.
Komentar
Posting Komentar