Saya duduk ditengah beberapa orang lainnya yang sedang asik bebincang-bincang. Hadir seorang anak dan ibu. Anak perempuan berumur 2 tahun, memakai baju berwarna merah. Ia adalah seorang anak yang sangat lincah dan sangat mencuri perhatian saya. Ada-ada saja tingkah yang ia lakukan, meskipun awalnya malu-malu. Ibunya duduk di depan saya. Memakai baju yang cukup ketat dan sedikit terbuka dengan badan yang cukup berisi dan tidak lupa celana pendek. Bajunya seperti baju rumahan, tapi mungkin jarang dipakai untuk seorang ibu-ibu. Bisa dibilang ia adalah seorang Ibu muda. Rambutnya cukup panjang dan diikat. Ia mulai mengambil sebatang rokok dan mulai menghidupkan korek api . rokok pun mulai dihisapnya. Bibirnya hitam sekali. Dugaan sementara ia tampak seperti perokok berat. Dan benar saja, dalam sebentar saja.
Setengah bungkus rokok habis dihisapnya. Ia mulai mengeluarkan suaranya. Mencoba mengajak saya ngobrol. Sedangkan saya masih asik dengan anaknya. Katanya Ia mau ke Kalimantan untuk bekerja. Tapi Ia masih merasa berat untuk melepas anaknya sendirian di Bandung. Nenek dari anaknya pun telah mendukung kepergiaanya ke Kalimantan. Sejujurnya ia lebih mau tinggal di Bandung saja dan membukan salon, tapi Ibu-nya tidak mau membantunya. Saya masih bingung apa yang mau ia kerjakan di Kalimantan. Saya mencoba mengingat-ingat lagi, apa pekerjaanya selama ini. Dia pemandu lagu di tempat karaoke. Saya pun berpikir mungkin disana ia ingin menjadi pemandu lagu lagi. Kenapa tidak ia bawa saja anaknya kesana. Ia menghisap lagi rokoknya. Dan sedikit berkhayal, “Siapa tau dapat Bos Kaya”. Saya masih tertawa dan menganggap itu hanya lelucon. Namun ia serius berkata, ini demi masa depan buah hatinya. Seketika saya sadar apa yang akan ia lakukan di Kalimantan.
Dulu memang beredar isu kalau dia adalah pemandu lagu plus-plus. Saya sempat tidak percaya. Lalu tidak lama saya kembali mendengar ia hamil, dan akan segera menikah. Lalu bercerai. Mantan suaminya hanya mengirimi uang untuk anaknya 200ribu per bulan. Namun entah kenapa bulan ini mantan suaminya tidak mengiriminya uang. Saya juga sempat mendengar setelah beberapa bulan bercerai ia sudah mau nikah lagi dengan seorang bule. Tapi entah kenapa pernikahan itu dibatalkan. Padahal bahan kebaya sudah terbeli. Sekarang ia belum menjalani hubungan dengan siapapun. Ia masih asik mengurusi anaknya. Tetapi ia tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Bagaimanapun anaknya butuh makan dan semakin besar akan semakin banyak biaya yang ia keluarkan. Namun ia sendiri bingung, apa lagi yang bisa ia lakukan? Kerutan dahinya sangat dalam. Ia tampak tertekan saat menceritakan betapa beratnya untuk meninggalkan anaknya di Bandung.
Mungkin alasan untuk tidak membawa anaknya ke sana, agar anaknya tetap bisa hidup di lingkungan yang sehat. Sungguh miris ketika mendengar cerita tersebut. Apapun akan dilakukan untuk buah hatinya, meskipun harus menanggung dosa dan aib. Ditambah penguatan dari Orang tua yang terlihat tidak peduli. Pilihan yang sulit memang, apa yang harus dipilih uang atau harga diri? Dan ketika harga diri tidak bisa lagi memberi makan, maka untuk mendapatkan uang harga diri hanya tinggal kenangan. Yang paling membuat saya prihatin adalah bagaimana nasib anaknya? Sedangkan di Bandung tidak ada yang sangat peduli terhadapnya. Dan andai pada akhirnya ikut, apa lingkaran setan akan terus berlanjut?
Dia masih menghisap rokoknya. Dan mencoba tertawa. Tiap tawa yang ia keluarkan malah membuat saya semakin miris. Apapun profesinya saya malah kagum akan kekuatannya. Tidak seperti banyak orang yang seharusnya tidak menderita malah sok-sok’an menderita. Dia tetap mencoba kuat di berbagai situasi, menghadapi sindiran dari orang-orang. Saya menjadi ingat dalam sebuah film yang sangat saya sukai “memoirs of Geisha”, ada sebuah kalimat, “Kita menjadi seperti ini bukan karena kita memilih, tapi karena kita tidak bisa memilih pilihan lain”. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa hidup itu pilihan. Namun saya lebih memandang kalau hidup itu bukan hanya soal memilih, karena pada kenyataannya kita tidak pernah benar-benar bisa memilih apa yang kita inginkan. Kalaupun kita memilih kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terbatas. Dan kita harus tetap menjalaninya. Dia tidak bisa memilih, yang dia inginkan membuka salon di Bandung, tapi pada akhirnya ia tidak bisa meneruskan keinginnya itu.
Setengah bungkus rokok habis dihisapnya. Ia mulai mengeluarkan suaranya. Mencoba mengajak saya ngobrol. Sedangkan saya masih asik dengan anaknya. Katanya Ia mau ke Kalimantan untuk bekerja. Tapi Ia masih merasa berat untuk melepas anaknya sendirian di Bandung. Nenek dari anaknya pun telah mendukung kepergiaanya ke Kalimantan. Sejujurnya ia lebih mau tinggal di Bandung saja dan membukan salon, tapi Ibu-nya tidak mau membantunya. Saya masih bingung apa yang mau ia kerjakan di Kalimantan. Saya mencoba mengingat-ingat lagi, apa pekerjaanya selama ini. Dia pemandu lagu di tempat karaoke. Saya pun berpikir mungkin disana ia ingin menjadi pemandu lagu lagi. Kenapa tidak ia bawa saja anaknya kesana. Ia menghisap lagi rokoknya. Dan sedikit berkhayal, “Siapa tau dapat Bos Kaya”. Saya masih tertawa dan menganggap itu hanya lelucon. Namun ia serius berkata, ini demi masa depan buah hatinya. Seketika saya sadar apa yang akan ia lakukan di Kalimantan.
Dulu memang beredar isu kalau dia adalah pemandu lagu plus-plus. Saya sempat tidak percaya. Lalu tidak lama saya kembali mendengar ia hamil, dan akan segera menikah. Lalu bercerai. Mantan suaminya hanya mengirimi uang untuk anaknya 200ribu per bulan. Namun entah kenapa bulan ini mantan suaminya tidak mengiriminya uang. Saya juga sempat mendengar setelah beberapa bulan bercerai ia sudah mau nikah lagi dengan seorang bule. Tapi entah kenapa pernikahan itu dibatalkan. Padahal bahan kebaya sudah terbeli. Sekarang ia belum menjalani hubungan dengan siapapun. Ia masih asik mengurusi anaknya. Tetapi ia tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Bagaimanapun anaknya butuh makan dan semakin besar akan semakin banyak biaya yang ia keluarkan. Namun ia sendiri bingung, apa lagi yang bisa ia lakukan? Kerutan dahinya sangat dalam. Ia tampak tertekan saat menceritakan betapa beratnya untuk meninggalkan anaknya di Bandung.
Mungkin alasan untuk tidak membawa anaknya ke sana, agar anaknya tetap bisa hidup di lingkungan yang sehat. Sungguh miris ketika mendengar cerita tersebut. Apapun akan dilakukan untuk buah hatinya, meskipun harus menanggung dosa dan aib. Ditambah penguatan dari Orang tua yang terlihat tidak peduli. Pilihan yang sulit memang, apa yang harus dipilih uang atau harga diri? Dan ketika harga diri tidak bisa lagi memberi makan, maka untuk mendapatkan uang harga diri hanya tinggal kenangan. Yang paling membuat saya prihatin adalah bagaimana nasib anaknya? Sedangkan di Bandung tidak ada yang sangat peduli terhadapnya. Dan andai pada akhirnya ikut, apa lingkaran setan akan terus berlanjut?
Dia masih menghisap rokoknya. Dan mencoba tertawa. Tiap tawa yang ia keluarkan malah membuat saya semakin miris. Apapun profesinya saya malah kagum akan kekuatannya. Tidak seperti banyak orang yang seharusnya tidak menderita malah sok-sok’an menderita. Dia tetap mencoba kuat di berbagai situasi, menghadapi sindiran dari orang-orang. Saya menjadi ingat dalam sebuah film yang sangat saya sukai “memoirs of Geisha”, ada sebuah kalimat, “Kita menjadi seperti ini bukan karena kita memilih, tapi karena kita tidak bisa memilih pilihan lain”. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa hidup itu pilihan. Namun saya lebih memandang kalau hidup itu bukan hanya soal memilih, karena pada kenyataannya kita tidak pernah benar-benar bisa memilih apa yang kita inginkan. Kalaupun kita memilih kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terbatas. Dan kita harus tetap menjalaninya. Dia tidak bisa memilih, yang dia inginkan membuka salon di Bandung, tapi pada akhirnya ia tidak bisa meneruskan keinginnya itu.
Yap, hidup terkadang memang tidak memberi kita pilihan. Saya pernah menulis cerpen senada kisah di atas; http://mbokmenik.wordpress.com/2011/01/06/ken-juli/.
BalasHapus