Langsung ke konten utama

Kisah daging berkurban

Jumat kemarin adalah hari idul adha. Dan pada hari itu umat muslim yang mampu akan berkurban kambing atau sapi. Dan dagingnya akan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sehingga pada hari itu orang-orang yang tergolong tidak mampu secara financial untuk membeli daging bisa makan daging hari itu. Saling berbagi itulah essensi yang saya dapat dari berkurban yang saya dapat selain pengorbanan.

Dan sorenya saat saya lihat berita di TV ribuan orang mengantri demi daging qurban. Dan pembagian daging itu berlangsung ricuh bahkan pada akhirnya banyak yang tidak kebagian. Dan 2 kata “tidak kebagian” membuat saya tergelitik. Saya yang tidak terlalu paham akan ilmu agama sedikit kebingungan apayang berkurban juga harus dapat jatah daging ya? Begini di daerah saya setiap orang yang ikut berkurban diberi 4 kg daging. Jumlah yang banyak menurut saya. Jadi kalau dihitung-hitung satu sapi 7 orang. Ada 28 Kkg yang diberikan pada 7 orang tersebut. Sisanya itu yang dibagikan pada yang membutuhkan daging. Saya pikir mungkin dengan dibagikan kembali pada hari itu semua orang dapat “makan” daging bersama atau juga yang ikut berkurban mungkin ingin membagi-bagikan sendiri 4 Kg tersebut pada sanak saudara atau yang lain. Tapi setelah saya pikirkan kembali 4 Kg untuk yang berkurban tampaknya terlalu besar. Karena yang berkurban untuk makan daging sehari-harinya bukan hal yang aneh lagi. Dan kalaupun ingin merasakan daging jug pada hari itu seharusnya tidak terlalu banyak, lagian itukan letak pengorbanannya? Jadi sebenarnya ikhlas tidak sih berkurban?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...

Apalah Arti Sebuah Nama?

Banyak orang-orang yang bilang begitu, karena mereka menganggap kalau nama itu ga terlalu penting. Karena belum tentu nama keren, muka keren atau nama norak orangnya juga norak. Saya pun sering dengar system generalisasi nama. Misalnya seperti yang namanya “X” biasanya cantik, yang namanya “Y” biasanya ganteng, yang namanya “Z” biasanya jahat. Well dari sana saja ketauan nama itu bukan sesuatu yang bisa ditendang sejauh 50 meter dengan tenaga minim, artinya saya sih menganggap kalau nama itu penting. Saat kita menyandang nama sesuatu, kalau kata orang tua kita membawa doa dan tanggung jawab. Doa yang dimaksud adalah harapan-harapan dari orang tua yang kelak diharapkan akan muncul. Misalnya saya sendiri, Agung artinya besar, Muhammad artinya diharapkan perilakunya bisa dijadikan panutan, Reza yang maksudnya diharapkan menjadi pemimpin yang bijak. Wew, kalau saya ingat-ingat arti dari nama saya sendiri rasa-rasanya bahu saya mendadak berat sekali. Begitu besarnya harapan orang tua saya...