Langsung ke konten utama

Review: The Soloist


Ditengah tugas yang sangat menjepit, saya mencoba menonton salah satu film dari deretan panjang film yang harus saya tonton. Dan kali ini adalah kesempatan film The Soloist. Jujur saya mendengar judul film ini dari beberapa teman saya, katanya sih filmnya bagus. Dan setelah sekian lama lupa akan ketertarikan ingin menonton film itu, adik kelas saya menawarkan film itu pada saya.

Menit-menit awal menonton film ini saya agak kebingungan dengan apa cerita yang ingin disampaikan. Setelah setengah jam pun saya belum dapat menangkap apa isi cerita ini. Sehingga saya dilanda kantuk yang luar biasa, saya pun memutuskan untuk tidur dulu. Seperti sinetron bersambung saya pun kembali melanjutkan menonton film ini. Dan sebelumnya saya mencoba membaca synopsis yang ada pada belakang cover DVD. Baru saya mulai bisa menerka-nerka apa maksud film ini. Otak saya ga nyampe kali ya. Dan akhirnya saya mulai larut dengan suasana drama yang dihadirkan dalam film ini.

Sutradaranya Joe Wright tampaknya senang menjelaskan suasana hati tokoh Nathaniel dengan sisipan flashback kehidupannya. Ditambah ilustrasi warna ditengah permainan music orchestra. Film yang cukup indah menurut saya. Apalagi scoring yang sangat klasik tapi bisa selaras dengan adegan-adegan di filmnya. Pergerakan kameranya pun tidak monoton, mungkin ini salah satu taktik agar penonton tidak cepat bosan dengan alur yang selambat ini. Dari segi acting pemain, two thumbs up buat Jamie Foxx! Ga nyangka dia bisa acting sebagus itu.

Cukup dari segi teknis film. Saatnya menuju cerita, film ini bercerita tentang seorang musisi jalanan yang tak punya tempat tinggal, Nathaniel. Dia adalah salah satu orang dari 90ribu orang di L.A yang tidak memiliki tempat tinggal. Dia mempunyai mimpi untuk bermain di Walt Disney Concert Hall. Suatu hari seorang jurnalis Steve Lopez dari salah satu surat kabar melihat Nathaniel sedang bermain di pinggir jalan. Steve berniat mengangkat kisah Nathaniel di surat kabarnya untuk menaikan rating surat kabar yang mulai menurun. Ternyata kisah ini mendapat sambutan luar biasa. Tetapi Nathaniel bukan sekedar musisi jalanan biasa, ia memiliki kisah hidup dan perilaku yang aneh, sehingga ia didiagnosis schizophrenia. Ini semua tidak lepas dari masa lalunya yang terobsesi menjadi Beethoven. Dan ternyata usaha Steve mengungkap dan menolong Nathaniel juga tersandung berbagai masalah yang dilematis. Mulai dari pertemanannya yang makin terjalin, ketergantungan Nathaniel, eksploitasi Nathaniel, dan lain-lain.

Secara inti cerita film ini sangat mengingatkan saya pada film “Reign Over Me”. Di film tersebut digambarkan kisah kedua orang yang bersahabat juga. Persamaannya adalah, satu kulit putih dan satu kulit hitam, satu sudah matang dalam pekerjaan yang satu hidupnya tidak jelas, satu ingin menolong satu lagi butuh ditolong, dan satu normal (secara psikologis) satu memiliki gangguan. Dan hikmah yang di dapat pun ada kesamaan, yaitu saat seseorang sangat tertarik menolong seseorang secara ia tidak sadari ada masalah yang sebenarnya terpendam dan ingin diselesaikan. Sehingga ia secara tidak langsung bercermin. Seperti yang dilakukan Jon Cheadle pada Adam Sandler, dan pada film ini Robert Downey pada Jamie Foxx. Dan keduanya pun pada akhirnya memiliki ending yang sama, yaitu mereka menjadi sahabat baik. Hanya berbeda latar belakang hidup.

Kisah yang cukup indah, namun sayang alurnya terlalu lambat dan dari segi kurang ada naik turun dalam cerita. Terkesan datar, sehingga resiko mengantuk lebih besar. Karena sudah menonton film Reign Over Me, saya sedikit kecewa terhadap film ini karena saya menunggu ending yang berbeda namun ternyata hampir mirip, bahagia. Mungkin seandainya saya belum pernah nonton film yang memiliki cerita seperti ini saya pasti akan sangat menyukai film ini. Tapi secara kualitas film ini tetap bisa dibilang lumayan bagus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hmm, need someone?

Sudah beberapa bulan, entah masuk hitungan tahun, saya kurang peduli akan ada atau tidaknya seorang pendamping atau bahasa anak jama sekarang pacar kali ya. Ya saya tidak seambisius waktu SMA, dimana saya benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan seseorang. Dan jika tidak ada, rasanya saya begitu hampa. Meskipun waktu SMA banyak yang tidak sampai “resmi” pacaran. Yang pasti, selama SMA ada saja seseorang yang membuat hubungan dengan saya tapi tanpa status yang tidak jelas. Saat masuk masa kuliah. Keinginan itu masih ada dan malah ingin mencoba sesuatu pengalaman baru. Tapi niat “jahat” itu dibatalkan karena banyak pertimbangan. Akhirnya saya tidak terlalu menggebu-gebu harus punya. Meskipun sempat ada sedikit “drama” di tahun pertama saya kuliah, namun tetap pada akhirnya tidak jadi. Lagian saya punya teman-teman yang telah begitu baiknya mengisi waktu dan pikiran saya selama ini. Dan saat saya ditanya “Gung kenapa ga nyari pacar lagi?”. Saya selalu jawab, “Lagi ga pengen, ga ter...

Apalah Arti Sebuah Nama?

Banyak orang-orang yang bilang begitu, karena mereka menganggap kalau nama itu ga terlalu penting. Karena belum tentu nama keren, muka keren atau nama norak orangnya juga norak. Saya pun sering dengar system generalisasi nama. Misalnya seperti yang namanya “X” biasanya cantik, yang namanya “Y” biasanya ganteng, yang namanya “Z” biasanya jahat. Well dari sana saja ketauan nama itu bukan sesuatu yang bisa ditendang sejauh 50 meter dengan tenaga minim, artinya saya sih menganggap kalau nama itu penting. Saat kita menyandang nama sesuatu, kalau kata orang tua kita membawa doa dan tanggung jawab. Doa yang dimaksud adalah harapan-harapan dari orang tua yang kelak diharapkan akan muncul. Misalnya saya sendiri, Agung artinya besar, Muhammad artinya diharapkan perilakunya bisa dijadikan panutan, Reza yang maksudnya diharapkan menjadi pemimpin yang bijak. Wew, kalau saya ingat-ingat arti dari nama saya sendiri rasa-rasanya bahu saya mendadak berat sekali. Begitu besarnya harapan orang tua saya...