Langsung ke konten utama

Rumput tetangga..?


Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri, dulu gue sempet ga menyangka kalo peribahasa jadul itu emang benar-benar bisa terjadi dalam hidup gue. Siapapun orang yang membuat peribahasa itu pastinya pernah menglami kejadian itu. And now, it’s my turn.

Aslinya kebingungan besar melanda gue, Cuma lewat ini gue bisa bercerita, ke orang lain, mungkin dianggap sepele, tapi engga bagi gue. Teman, bukan mau membesar-besarkan masalah, sebenarnya masalah ini sudah lama muncul dan selama ini coba untuk ditahan. Tapi tanggul yang gue buat juga bisa jebol kan? Konstruksi yang ga kuat, bikin sekarang tanggul ini jebol, sejebol-jebolnya. Pengen lari rasanya, kalau ga ngeliat status, bukan benci, tapi, sangat bertolak belakang, entah, apa yang membuatnya seperti itu. Hitam memang lebih mudah terlihat dari pada putih, itu kalau memang berada di putih, itulah yang terjadi, pemahaman tentang putih kejauhan, tidak melihat putih yang disekitar, malah melirik putih yang di luar, yang di dalam, hanya terlihat bagian yang hitamnya saja.

Berbelit-belit? Mungkin iya, otak gue sedang berbelit-belit, tidak ada yang sudi meluruskannya kemabli, selain diri gue, yaiyalah, itungannya gue udah gede, harus bisa meluruskan masalah sendiri, meskipun pada faktanya, gue sama sekali ga bisa.

Gue sangat menghormati dan menyayangi dia, tapi kadang-kadang ini keterlaluan, apapun selalu gue usahain buat dia, tapi semuanya sering ga berarti, dianggap kurang. Rumput yang dia punya tidak pernah dilirik, padahal rumput miliknya sendiri, sebenarnya lebih berkilau, tapi matanya terhalangi oleh pemahamannya akan kepunyaannya sendiri yang tidak ada bagus-bagus nya. Serba salah.

Jadi, kapankah ia menyadari, ada rumput yang sangat bernilai dan berkilau, selalu mengabdi padamu, selalu mencoba mengerti, namun sekalipun ia tidak pernah mau mengerti?

“I’m sorry I can’t be perfect”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Psikolog Tidak Semudah yang Anda Kira.

Mungkin masih banyak yang menganggap remeh profesi psikolog. Atau juga masih banyak yang menganggap psikolog itu hanya sebatas pembaca kepribadian manusia. Seseorang yang kuliah di bidang Psikologi relative banyak menerima pernyataan dan permintaan “Baca Aku dong?” atau “Tebak aku kayak gimana?”, lagi-lagi kalau dapat respon seperti saya Cuma nyengir. Semester-semester sebelumnya saya masih menganggap bahwa buat belajar psikologi ya tinggal baca buku, karena pengaruh dosen tidak terlalu signifikan. Saya ingat seorang teman SMA saya yang sempat berapi-api ingin masuk Psikologi tiba-tiba berubah pikiran dengan alas an “ Ah belajar psikologi mah bias otodidak, tinggal baca”. Kali ini saya sangat tidak setuju dengan pernyataan sang teman SMA. Belajar Psikologi bukan hanya mengetahui seseorang ekstrovert atau introvert. Atau sekedar main-mainan tebak kepribadian. Menjadi Psikolog atau setidaknya sarjana Psikologi tidak sesederhana itu. Setelah 4 semester terlewat saya pun baru tersadar...

Apalah Arti Sebuah Nama?

Banyak orang-orang yang bilang begitu, karena mereka menganggap kalau nama itu ga terlalu penting. Karena belum tentu nama keren, muka keren atau nama norak orangnya juga norak. Saya pun sering dengar system generalisasi nama. Misalnya seperti yang namanya “X” biasanya cantik, yang namanya “Y” biasanya ganteng, yang namanya “Z” biasanya jahat. Well dari sana saja ketauan nama itu bukan sesuatu yang bisa ditendang sejauh 50 meter dengan tenaga minim, artinya saya sih menganggap kalau nama itu penting. Saat kita menyandang nama sesuatu, kalau kata orang tua kita membawa doa dan tanggung jawab. Doa yang dimaksud adalah harapan-harapan dari orang tua yang kelak diharapkan akan muncul. Misalnya saya sendiri, Agung artinya besar, Muhammad artinya diharapkan perilakunya bisa dijadikan panutan, Reza yang maksudnya diharapkan menjadi pemimpin yang bijak. Wew, kalau saya ingat-ingat arti dari nama saya sendiri rasa-rasanya bahu saya mendadak berat sekali. Begitu besarnya harapan orang tua saya...