Langsung ke konten utama

hallo effect dan Ibu

Beberpa hari yang lalu di sore hari pas gue baru pulang dari kampus, gue liat langit warna biru, ungu, dan oranye. Sebuah komposisi yang bagus dan gradasi yang begitu memukau [lebay mode: ON], jadinya gue bawa motor setelan cinta [meskipun Cuma sendirian], cukup menghibur hati gue yang suntuk.

“Ma, minta duid buat beli buku?”
“Besok”
Besoknya.
“Ma, buat beli buku tea..”

“aduh, banyak banged segh pengeluarannya”

Gue mau sedikit bercerita tentang cara berpikir Ibu gue yang sedikit unik. Yaitu, Penampilan itu nomer satu. Hallo effect, meskipun Ibu gue ga belajar tentang ilmu Psikologi. Tapi beliau bener-bener, sering negliat orang dari penampilan dan sikap. Jadi ga heran, dia sangat memerhatiin yang namanya fashion [yaiyalah, orang kerjaannya]. Dulu gue piker gue dimasukin ke SD yang waktu jaman gue segh cukup bangga masuk sana, kalo di lingkungan komplek. Soalnya terkesan pinter masuk sana. Dan cukup mahal apalagi dengan biaya jemputan. Asal nya segh gue kira biar gue dapet pendidikan yang bagus [ya itu juga alesan, tapi bukan yang utama]. Demi gengsi. Dan bayangin waktu jaman SD hidup lagi susah-susahnya sampe-sampe keluarga gue rame-rame bikin jepitan rambut, trus kakak-kakak gue jualan ke-pasar. Demi sekolah. Wah kalo inget-inget jaman dulu suka senyum-senyum sendiri gue. Tapi se-susah apapun keluarga gue, Ibu gue selalu menekankan, jangan kita pamerin kesusahan kita. Itu yang gue tangkep. Meskipun susah, Ibu tetep merhatiin penampilan kita mulai baju, sepatu, tas, dll. Biar tetep kinclong dari luar dan ga ngeliatin kemelaratan kita. Biar ga dipandang remeh ama orang. Dan itu semua malah bikin ga bikin gue minder dengan keadaan saat itu [kadang-kadang segh iya]. Walapun susah tetep gaya. Dan prinsip itu masih berlaku sampe sekarang. Walaupun udah lumayan berubah hidup gue, tapi tetep, penampilan nomer satu. Ga heran gue bisa dimarahin Cuma gara-gara pake baju yang lusuh [diem-diem masih kok], entah itu di rumah atau mau pergi. Dan tebak buat yang namanya “Pendidikan” tuh, susahh banget tembusnya, alesannya bejibun. Yagh karena perjalanan hidup yang panjang dan selalu melihat kalo pendidikan tugh ga penting-penting banget, tapi perlu buat prestige, yagh jadinya pendidikan jadi nomer sekian. Apalagi kakak-kakak gue yang semuanya melenceng dari jurusan yang dipilih sama kerjaan sekarang ini. Kakak pertama jurusan sekertaris jadi bergelut di percetakan. Kakak ke-2 jurusan agribisnis malah jadi dagang. Mudah-mudah’an kakak yang ke-3 bisa memberi bukti kalo kuliahnya bisa dipake. Demi kelangsungan pendidikan si Rico. [hahaha]. Gue juga masih bingung caranya gimana biar nge-ubah pandangan itu. Mungkin suatu hari ada solusinya.
Besoknya lagi

“Ma, temen agung ada yang ngajakin fitness”
“Ikutan gung!”
“duid darimana, bayar sendiri magh ga sanggup agh”
“Ya Mama bayarin”


Pusing kepala gue. Kalo beli buku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...