Langsung ke konten utama

Krui, Pernah Kesana?

Tanjung Setia
Krui, pernah denger? Engga? Sama sih, saya juga asing pertama denger nama Krui. Apa sih itu Krui? Sebagus apa sih Krui? Itu yang muncul di kepala saya. Saya browsing soal Krui ternyata hasilnya masih dikit banget informasi soal Krui. Bisa disimpulkan kurang eksis nih tempat, tapi pas dibaca-baca lagi ternyata justru banyaknya orang luar yang bikin artikel soal Krui. Setelah saya telusuri ternyata Krui itu punya spot surfing yang terkenal di dunia. Tapi kok buat orang lokal ga begitu terkenal ya?

Akhirnya saya memutuskan ke Krui di akhir tahun lalu. Sejujurnya ini modal nekat sih ke Krui, soalnya infomasi mengenai tempat ini minim banget. Takutnya di sana saya naik apa ya kemana-mananya. Tapi ga akan tau kalau ga nyoba kan? Akhirnya saya memutuskan untuk pesan travel ke Krui seharga 90 ribu dijemput di tempat kita tinggal. Informasi mengenai travel pun susahnya setengah mati. Saya googling kesana kemari akhirnya dapet juga nomernya. Jadwal berangkatnya konon jam 9 pagi. Logika saya kalau berangkat jam 9  artinya dijemput sebelum jam 9, ternyata saya salah. Mobil baru datang sekitar jam 11, saya menunggu sungguhlah amat lama. Si supir bilang macet di jalan ketika jemput yang lain dan saya adalah orang terakhir yang dijemput. Okay tidak berhenti sampai di situ, saya dijemput menggunakan mobil APV. Tidak ada yang salah dengan mobil APV karena dalamnya cukup lega, tapi ternyata dibalik harga 90 ribu ada rupa yang harus saya terima. Jumlah penumpang di mobil itu ada 7 orang artinya 8 orang dengan supirnya. Pengaturannya 2 orang di depan 3 orang di tengah dan 3 orang di belakang. Lalu dimanakah saya duduk? Tepat di belakang dan di tengah. Okay saya berusaha lapang dada selama 6 jam ke depan untuk melihat langsung Krui. 

Tanjung Setia
Perjalanan di tempuh melewai hutan dan pegunungan yang berliku bahkan ada melewati Hutan Bukit Barisan suasana menjadi cukup mencekam untuk saya. Jalanan super menanjak, berliku dan berembun. Jarak pandang pendek sekali, saya sih super deg-deg-an takut pas lagi lurus-lurus taunya belok malah lurus ke jurang. Perasaan mencekam saya ini sepertinya tidak dirasakan oleh sang supir yang asik ganti-ganti musik dan ganti video selama di jalanan berliku dan penumpang lain hanya bengong dan tertidur tidak peduli, bahkan kelinci (iya ada kelinci lengkap dengan kandangnya!) pun diam-diam saja. Semuanya sudah terbiasa, sementara saya cemas sendirian. Setelah 7 jam akhirnya saya sampai ke Tanjung Setia. Saya menginap di Ombak Indah yang saya book karena googling maklum di Traveloka atau Booking.com justru ga nemu yang cocok tanggal segitu dan adapun harganya super mahal.

Ombak Indah
Saya sampai Tanjung Setia itu ketika sudah sore dan saya memutuskan santai-santai di pantai yang masih di kawasan Ombak Indah. Enak sih bisa bengong, pantainya bukan pantai yang indah banget tapi masih terbilang bersih dan sunsetnya masih enak. Oh iya, beneran ombak-nya gede wajar banyak orang luar yang kesini, malah selama saya di sini saya sedikit sekali nemu orang lokal. 

Setelah puas menikmati pemandangan sore hari saya memutuskan untuk menanyakan motor apakah disewakan atau tidak. Jawabannya tidak. Saya sempet menelan ludah kalau-kalau sampai ga nemu sewa motor saya akan stuck di Ombak Indah ini aja sampe lusa. Tidak lama salah satu kru di sana menyewakan motornya seharga 80 ribu sehari. Akhirnya bisa keliling-keliling! Bayangan saya akan sama seperti di Pacitan ada kota-nya sendiri. Malam hari saya putuskan untuk cari makan malam, saya browsing katanya makan sate ikan marlin di sini jadi favorit. Saya buka maps cuma 12Km, ya ga terlalu jauh. Perjalanan dimulai, 2 kilo pertama okay sepi, 2 kilo berikutnya okay hutan semua, kemudian semakin gelap dan semakin gelap. Sampailah ke sebuah jalan yang dihubungkan dengan jembatan seharusnya tetapi putus dan sedang diperbaiki. Sehingga kalau mau lewat harus melewai jalan dari gundukan pasir yang cukup sulit. Sebelum memulai lanjut dan hujan turun! Setelah mempertimbangkan jaraknya yang 7 kilo lagi dan kondisi hujan, akhirnya diputuskan cari makan dekat-dekat hotel. Percayalah tidak ada bentuk keramaian di sekitar hotel. Sampai akhirnya saya menemukan warung nasi dengan jarak 6 kilo dari hotel. Untungnya makanannya enak! Setelah makan hujanpun turun kembali dan basah sampai di hotel. 

Kehujanan bertubi-tubi akhirnya saya ga enak badan juga. Saya putuskan untuk tidur cepat biar besok saya bisa melanjutkan petualangan ini. Dan ternyata oh ternyata, saat saya tertidur pulas. Ada sebuah bencana terjadi. Tsunami di Banten dan Lampung. Tsunaminya bisa terbilang parah. Saya terbangun dengan banyak notifikasi dan bingung emang semalem ada apa? Setelah menjelasakan satu per satu kalau saya tidak apa-apa akhirnya saya juga memutuskan untuk pulang hari itu juga dan tidak melanjutkan eksplorasi Krui. 

Santai sejenak di cafe di Cabana Surf & Stay
Sebelum pulang saya masih penasaran dengan sate ikan marlin dan sebuah hotel yang rencananya mau ditempati namanya Cabana. Akhirnya saya bertolak ke arah jembatan rusak itu lagi dan sampailah ke Cabana Surf and Stay. Di sana ada cafenya juga, dan bisa menikmati pemandangan pantai di Mandiri Beach. Saya rasa pantai di Mandiri ini lebih bagus daripada Tanjung Setia, lebih landai. Di Cabana Surf and Stay ini juga ada kolam renang yang menghadap ke pantai. Ya bisa ditebak kebanyakan bukan orang Indonesia yang ada di sini. 

Cabana Surf & Stay
Setelah puas di Cabana Surf & Stay saya lanjutkan diri ke Labuhan Jukung. Akhirnya di sanalah saya baru menemukan sedikit keramaian. Sebenernya agak takut-takut juga ke pantai-pantai karena bencana malam harinya, jadi saya di sana sebentar karena pengen makan sate ikan marlin. Setelah sampai di Pondok Kuring ternyata sate ikan marlin hanya ada di malam hari. Dengan kecewa saya akhirnya cuma makan kakap yang enak juga sih. 

Setelah makan saya menunggu jemputan travel sampai di hotel sekitar jam 2 lewat. Mobilnya masih sama APV tapi kali ini saya duduk di baris tengah dan duduk di bagian tengah. Penderitaan sedikit berkurang tapi tetep pegel juga sih. Sampai akhirnya malam hari saya sampai lagi di Bandar Lampung lagi dan baru kerasa seremnya Tsunami. 


Mandiri Beach
Krui sepertinya potensial buat jadi objek wisata soalnya modalnya udah ada ombak gede, pantai bagus, dan beberapa homestay yang modern. Sayangnya lagi-lagi pemerintah lokal ga serius mengelola tempat ini. Coba bayangin kalau dikelola kayak Bali, pasti makin tersohor ga cuma buat orang luar tapi juga orang Indonesia. Nah buat orang Indonesia juga jangan cuma eksplor negara luar dong, sayang kan orang luar aja pada ke sini yang medannya susah banget masa kita pada mager. Yuk mulai!









Labuhan Jukung

Kakap Merah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...