Langsung ke konten utama

cewek berbulu ketek?

Eva Arnaz

Tau kan Eva Arnaz? Aktris popular Indonesia jaman dulu. Yang sukses membintangi film-film jaman dulu. Di beberapa film dia dengan percaya dirinya make baju ga berlengan [istilah bajunya gue lupa]. Yang dengan jelas mempertontonkan bulu keteknya. Dan dengan percaya diri juga, dia berpose sedikit sensual dengan tangan terangkat.

Awalnya gue terheran-heran dengan ke-percayadiri-an beliau yang super. Tapi setelah gue pikir lagi, mungkin jaman dulu cewek berbulu ketek terus dipertontonkan nge-trend kali ya, jadi bukan masalah. Entah muncul dari mana, gue suka males negliat cewek berbulu ketek, trus dipamerin ke khalayak. Ketidaksukaan ini udah dari SMA muncul, dulu ada seorang cewek SMA yang berkerudung, pas dicopot rada lumayan lagh, tapi ternyata dia berbullu, dan keliatan ama gue, ilpillllll, sumpah. Soalnya gue selalu berpikiran kalo cewek itu keteknya selalu mulus [haha], makanya kalo misalnya liat cewek yang kalem, terus alim, cantik pula, tau-tau bulu keteknya keliatan, gue langsung memalingkan wajah. Mungkin yang kayak gini ga gue doang [kali ya], dulu temen SMA gue juga ada yang kayak gue.

Tapi ga banyak juga mungkin. Sebenernya sigh ga masalah buat orangnya, jelas, itu ketek-ketek dia, bukan gue, tapi mengganggu pandangan aja. Kalopun emang berniat memelihara bulu ketek, jangan pake baju yang memamerkan area ketek. Kalopun ngerasa, “suka-suka gue ah”, emang iya sigh suka-suka setiap orang mau kayak gimana, tapi pelase jangan pertunjukan itu di depan gue, yang ada gue mikir, ya ampun dia ga cukuran apa. Haha. Jadi masalahkah cewek melihara bulu ketek? Ga masalah, yang ga enak dipandang [hahaha].

“Si XXX ternyata bagusan ga dikerudung ya?”

“Tapi Gung, liat ga tadi, bulu-bulu keteknya yang banyak, ga sengaja liat”

“Ihh……”

“Hahahaa”

Komentar

  1. yampun agunx..
    ketek aja dimasalahin...
    hhahaa.

    aku mah jadi inget film jadul Samson dan Delilah yang dimaenin Benyamin S.
    bulu ketek pan sumber kekuatannya Benyamin S.

    jangan gtu siahhh.
    bisi ntar dapet isterinya yang berbulu ketek lebat.
    hhhhaaa

    BalasHapus
  2. iya gung,,lu bisa dpt karma ntar...

    tp gw jg rada2 gmn gt klo ama cewe yg "berbulu"tuh,,,asa kaya cowo....

    BalasHapus
  3. wakakakakakkk.... ternyata ape yang ane pikir, sama ente gan wakakakakakk.. thanks

    (NezzBeQ) id kaskus.... mampir2 ye gan...

    BalasHapus
  4. 80s = HIDUP KETEEEEEEKKKKKK

    Now = gakkkkk dehhh, enough.......

    hahaha




    (NezzBeQ) id kaskus....

    http://www.kaskus.us/member.php?u=3623248

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...