Langsung ke konten utama

Makan tepat waktu itu penting..

2 hari yang lalu flu datang, kali ini bukan flu biasa yang muncul tiap pagi. Kali ini bikin badan lemes, meriang, dan tak berdaya, haha. Ini bukan tanpa sebab, emang belakangan pola makan gue ga teratur, dibarengi ama aktivitas yang lumayan menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Jadi inget sebuah kalimat dari guru legendaries di SMP, namanya Pak Atina, dia terkenal sangat galak dan disiplin. Waktu ngajar di kelas gue dia sering bercerita tentang masa hidup dia, emang sih dia tegas, tiap pelajaran Matematika datang, urat-urat mendadak tegang, muka mendadak kaku, tapi dari tiap pelajaran gue bisa dapet, banyak banget cerita-cerita dia, mulai dia waktu remajanya gimana, kuliah, dan cerita-cerita yang bikin gue manggut-manggut. Salah satu yang sangat gue inget adalah tentang kesehatan.

Ga heran waktu gue SMP, dia tuh udah tua banget, tapi meskipun udah tua, wibawanya makin keliatan, ga ada gumpalan lemak di perutnya seperti bapak-bapak kebanyakan, atau seperti gue yang mulai makin tambun, badannya masih terlihat kokoh. Dia bilang, “segala macam penyakit itu munculnya dari perut”, itu yang dia yakini, “Jadi cara paling sederhana menjaga kesehatan, jaga makan, jaga perut ini”, mau ga percaya, tapi dia udah ngebuktiin, di umur yang sudah sangat tua [ga tau gue umurnya berapa], dia bisa dibilang sehat. Dan emang bener sih kalo buat gue, jaga perut, itu yang penting, belakangan, emang gue kurang perhatian ama perut yang sedikit buncit ini. Sarapan, makin berkurang, selera makan di pagi hari berkurang drastis, makan siang sering telat malah jadi makan sore, terus naik motor dengan perut kosong dan angin kencang, nyampe rumah ga langsung makan, malah nonton TV, telat lagi, ya jadi otomatis gampang kena penyakit. Harusnya gue inget-inget tuh kata Pa Atina. Pola makan dijaga. Dan lagian kayaknya perut gue emang ga tangguh nih, payah. Haha. Kalo makan bener, perut terisi, penyakit pada kabur deh. Mana sempet parno, gara-gara liat berita virus H1N1 [flu babi]. Jangan sampe. [buat temen-temen yang lain yang juga dilanda flu, yang semakin banyak jumlahnya, yang juga semakin merebak, cepet sembuh ya jaga kesehatan]

Kena penyakit waktunya di rumah, istirahat, bosen, ya udah gue nonton film “Reign Over Me”. Yang dimainin ama Adam Sandler ama Don Cheadle, film ini rekomendasi dari Tyas, sekalian lagi nyari kandidat film apa yang bakalan diputer September nanti. Film ini nyeritain tentang kisah pertemanan antara Alan Johnson [Don Cheadle] ama Charlie Fineman. Mereka temen sekamar waktu kuliah dokter gigi. Mereka udah lama ga ketemu, dan suatu hari Alan ngeliat Charlie lagi bawa skuter, pas disapa, ternyata Charlie lupa ama Alan. Dan Charlie keliatan linglung. Dari sana Alan terus ngedeketin Charlie. Dan sedikit demi sedikit nemuin jawabannya, dan ternyata Charlie kena Post Traumatic Stress Disorder.

Sebenernya kedua tokoh, ditambah tokoh tambahan Donna Remar, masing-masing punya masalah dalam diri mereka. Dan dengan bertemu dengan Charlie mereka malah menemuka jalan keluarnya masing-masing. Menurut gue film ini bagus banget deh, dari segi ceritanya yang kuat,acting Adam Sandler yang lumayan menjiwai, ditambah sinematografi yang lumayan juga, meskipun alurnya berjalan lumayan lambat, tapi ga bikin ngantuk. Dan setelah nonton dapaet sesuatu yang bikin gue berpikir, segitu pentingnya teman untuk bercerita, segitu pentingnya berbagi cerita kalo ada masalah, dan dari film ini, gue bisa bilang, kalo sharing problem hidup, itu emang dibutuhin manusia. Komunikasi emang sangat penting, dan lagi-lagi perhatian, need for attention itu yang paling dasar dibutuhin manusia, [teori Agung, haha, cuma berdasarkan pemikiran semata]. Nonton lah yang pasti.

"Their lives took different paths but they found themselves on common ground"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...