Langsung ke konten utama

dinamis kok beneran

Kemaren malem, gue abis chat ama temen SMA gue yang belakangan “sibuk”, pengen dicariin cewe, dan ternyata gue dapetin sebuah nomer sakti, dan obrolan yang asalnya ngomongin itu nomer jadi melenceng kemana-mana,

(bahasanya agak diperhalus dan melewati proses sensor, yang bersifat sangat privacy ga dimunculin)

GM: gimana gunk, cara nge-sama cewe, gue udah lupa pertamanya?

Gunk: gue magh bukan ahlinya sms cewe..hahaha, gini aja, “Ini “XXX” ya, salam kenal”

GM:lo pikir di FB

Gunk: atau ga ditambahin, “kamu temennya “III” ya? Saya temennya temennya “III”

GM: Kesannya jauh..

Gunk: ya ga apa-apa, kan yang ada dia cengar-cengir baca sms lo, hahaha

GM: gung, jangan-jangan temen lo nge-deskripsiin nya tentang lo lagi, dan pas si cewenya tau itu gue, kecewa lagi?

Gunk: ya engga lah, lagian temen gue sms tuh cewe di depan gue, tenang aja gum jangan nyerah mumpung ada kesempatan…haha

GM: jadi mikir kemana-mana..haha

Gunk: Gum liat status gue di FB dong, gaya berpacaran..hahaha

GM: Wow, sama siapa, kapan ya gue ganti status di FB jadi “berpacaran”

Gunk: hahahahaha

GM: emang sama siapa?

Gunk: status fiktif, gue kabur (lagi) dari cewe, haha

GM: hahaha

GM:emang siapa?

Gunk: lo cari aja di FB gue, yang sering ngasih komen

GM: “gffgfgdhfsgf” bukan?

Gunk: yap

GM: wah kalo menurut gue dari tampang-tampang nya, cewek kayak gitu ga pantang menyerah, Cuma gara-gara gitu doang, hahahaha

Gunk: aduh, hahaha

GM: ada aja, hahaha

Gunk: gue magh suka yang dinamis gum..haha

GM: dinamis atau perfect?

Gunk: perfect, I don’t think so..hahaha

GM :sama aja

Gunk: hahaha

GM: jadi apa yang harus gue sms, gue bingung, serasa muda lagi…

Gunk: jahhhh..haha..dasar udah tua…ahaa

Haha, sebenernya obrolan tadi malem itu, yang asalnya gue ketawa-ketawa, jadi sedikit kepikiran tentang masalah dinamis, iya, gue suka segala hal yang dinamis. Dari kecil gue udah mengalami pergantian “profesi impian” bukan cita-cita, kalo cita-cita gue sih simple, yaitu “Jadi orang kaya yang bahagia, juga berguna bagi orang banyak”, mulia sekali, makanya gue suka bingung kalo ada formulir yang nyuruh nulis cita-cita, karena gue sih punya pikiran lain tentang cita-cita, menurut gue cita-cita tujuan gue, dan menuju cita-cita itu diperlukan sebuah profesi, dan profesi idaman gue selalu berubah dari SD.

Gue sebutin satu per satu sesuai urutan, insinyur pemabangunan, arsitek, cameraman, fotografer, jurnalis, nge-band, penulis, actor, sutradara, tukang desain grafis dan bekerja di advertising, dan tidak ingin jadi psikolog.

Kenapa bisa berubah terus, insinyur pembangunan, tiba-tiba gue ngerasa kayaknya susah banget, harus pinter matematika. Pindah ke arsitek, jama SD nyoba-nyoba ngegambar rumah, tapi hasilnya ga pernah bagus, nyerah. Gara-gara dibeliin mainan dari sodara yang baru naik haji, namanya gue ga tau, pokoknya yang kalo diteken gambarnya ganti-ganti, tau ga? Terus, gara-gara dibeliin kamera jadul yang pake roll, gue jadi seneng motret, dan tertarik juga dibidang jurnalistik, Cuma ga gue tekunin lebih lanjut, malah jadi pengen nge-band, padahal ga bisa main alat musik apapun, karena itu disuruh jadi vokalis [haha], dan terhenti pas masuk SMA. SMA gue malah tertarik jadi penulis, karena sadar tulisan gue ngaco semua, nyerah lagi, terus mikir asik kayaknya jadi actor, masuk ke ekskul, taunya lebih concern ke cabaret, gue ga suka liat acting yang berlebihan, mau mundur, taunya ditawarin main film, jadi pemeran pendukung, dengan cerita yang garink, dan tetep lebai aktingnya, abis beres tuh film gue mundur, sampe sekarang gue ga berani liat muka gue di film itu, apalagi kalo udah ada temen yang bilang “gung tadi malem gue liat tampang lo di STV [tv local]”, jah memalukan, profesi actor ga gue pengenin lagi, sadar tinggi pas-pas’an, acting ancur, muka pas-pas’an mending ga usah. Karena sering nonton film gue jadi lebih tertarik jadi sutradara, tapi mikir-mikir lagi kuliah di IKJ, ga boleh, ke luar negeri, duit darimana? Ya udah, tinggal impian. Tukang desain, pengennya masuk FSRD, tapi lagi-lagi sadar kok, gambar pake tangan gue sangatlah hancur, oke peluang di advertising masih ada, ngejar FIKOM, beh, ga masuk, masuk Psikologi, ga jadi psikolog, tapi kerja di HRD, cukup lah.

Tapi dari semua profesi idaman, semua kerjaan yang gue pengen ga ada yang ngebosenin, selalu mencari yang baru yak an? Gue orangnya bosenan dalam segala hal, dan ga kebayang gue kerja seharian di kantor, ngerjain laporan, tidaakkk. Termasuk dalam hal pasangan, bukan perfect, tapi nyari yang ga ngebosenin, ga monoton, asik, rame, wawasan luas, baik, udah ga ribet kan, cuma susah nemunya. Haha, tapi Cuma keinginan kan? Pada kenyataannya apa yang kita pengen ga selalu kewujud, jadi ya itu yang sekarang gue lagi pelajari, menerima dan mensyukuri apa yang gue dapat, menikmati semuanya dengan sewajarnya, toh gue juga ga sempurna, ada yang suka gue dengan tau kondisi gue 100% harusnya bersyukur. Haha.

Bukan sempurna, nyet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: I Know What You Did on Facebook

Trailer film ini begitu menggoda saya. Dan hal itu membuat saya ngebet pengen nonton film ini. Penasaran, sepertinya seru, ringan, dan menyentuh nilai-nilai realitas yang sedang terjadi kini. Saat saya ke bioskop ternyata film ini telah beredar. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang beken lewat film Claudia/Jasmine. Film ini sukses menjadi angin segar ditengah film-film Indonesia yang saat ini sedang beredar seperti "Pocong Muter-muter" dan "Istri Tipuan". Tema film yang diangkatnya pun belum pernah ada yaitu Facebook. Saya salut dengan orang-orang yang nekat memproduksi film sejenis ini yang tampaknya sulit untuk laku. Film ini memang unik dan menyajikan unsur-unsur komedi yang bikin perut geli. Tapi unsur drama juga sangat kencang terasa. Namun saya merasa ada yang kurang dari film ini, apa ya sulit dijelaskan kurangnya greget yang saya rasakan setelah menontonnya. Secara sinematografi film tidak ada yang special. Film ini bercerita tentang seorang perempuan...

8 Hari Jelang Premiere

Ternyata saya mengalami ketakutan luar biasa jelang premiere. Takut kalau filmnya malah dihujat orang, takut kalau dengar selentingan "Ih filmnya ga banget deh". Takut juga denger "Duh Sutradaranya payah nih". Dan komentar-komentar lainnya yang bisa menyayat hati. Sumpah. Ini baru pertama kalinya film pendek yang saya sutradarai di putar secara umum. Dan ternyata rasanya lebih fantastis. saya malah jadi takut jangan-jangan tidak ada yang mau nonton film "Senja" lagi. Wajarkan ya kalau sutradara amatir semacam saya mengalami kegugupan ini? Mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Acaranya banyak yang datang dan tidak mengecewakan. Amien

Review: The Deathly Hallows part 1, The Best Harry Potter's film ever!

Lagi! Ya mungkin lagi-lagi review film Harry Potter and The Deathly Hallows bertambah lagi. Meskipun sudah banyak yang menulis reviewnya, tapi saya tidak tahan untuk ikut berkomentar kegirangan setelah menonton film ini. Yeah I love this film so much! Awalnya saya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan HP7 part 1 ini, karena kekecewaan saya pada HP6. Meskipun banyak kritikus film di luar sana yang menanggap HP6 adalah seri Potter terbaik, tapi saya tidak merasakan suasana dan cerita Potter yang sesungguhnya di HP6. Apalagi ketika mengetahui bahwa sutradaranya masih David Yates. Namun setelah menonton film HP7 part 1, saya langsung berkata dalam hati "Yeah Mas David sudah mengembalikan Harry Potter ke jalur sebenarnya!". Penuh sihir, gelap, dan menyenangkan. Film ini sudah menarik dari menit pertama hingga menit terakhir. Alur ceritanya lengkap, tidak ada perasaan aneh ketika perpindahan scene, tidak merasa ada bagian-bagian yang hilang, film ini terasa begitu utu...